Hagia Sophia

21 February 2026

Puasa Bisa Atasi Stres dan Cegah Cemas serta Depresi

Foto: Getty Images/Malik Nalik

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut puasa bisa membangun harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Hal ini dinilai jelas bermanfaat bagi kesehatan mental, terutama di tengah tekanan kehidupan modern.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan para ahli merekomendasikan sejumlah langkah agar puasa berdampak optimal bagi kesehatan mental.

"Menetapkan tujuan spiritual, berfokus pada mindfulness, menjaga pola hidup sehat, dan berbagi pengalaman dengan komunitas menjadi beberapa cara untuk mendukung kesehatan mental selama puasa," kata Imran kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

Imran menyebut Ramadan kerap menjadi momen refleksi dan perbaikan diri. Meski gangguan mental seperti kecemasan dan depresi masih tinggi, sejumlah laporan menunjukkan adanya perbaikan selama bulan puasa.

Mengutip penelitian di MAN 2 Kota Cilegon 2019, Imran menekankan puasa berkontribusi hingga 98,01 persen terhadap peningkatan kesehatan mental siswa. Studi tersebut menyoroti peningkatan pengendalian diri dan regulasi emosi selama puasa.

Hal yang sama juga disebutnya ditemukan pada studi dari Universitas Sirjan Azad yang melaporkan berpuasa membuat banyak orang memiliki kontrol diri lebih kuat sehingga tenang menghadapi tekanan hidup.

"Selama Ramadan, banyak individu melaporkan penurunan gejala stres dan kecemasan berkat praktik puasa dan aktivitas spiritual," ujarnya.

Sementara mengutip peneliti Prof Dr Siti Nur Azizah, Imran menjelaskan puasa dapat menjadi terapi jiwa karena membantu menjaga hormon kortisol yang berkaitan dengan stres serta meningkatkan produksi endorfin atau hormon kebahagiaan.

Penelitian dari National Library of Medicine (2024) juga ditegaskan Imran menunjukkan puasa membantu mengurangi produksi hormon stres seperti kortisol sehingga tubuh dan pikiran lebih rileks.

Aktivitas spiritual seperti doa dan zikir selama puasa juga disebut berfungsi sebagai bentuk mindfulness yang membantu individu fokus pada momen saat ini, sehingga mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa damai.

"Tak hanya itu, puasa juga berdampak pada metabolisme otak, meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang mendukung pertumbuhan dan regenerasi sel otak serta melindungi dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer," kata dia.

Meski begitu, Imran mengingatkan puasa bisa menjadi tantangan bagi sebagian individu dengan gangguan mental berat seperti skizofrenia. Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga dan komunitas agar mereka tetap bisa menjalani Ramadan dengan baik.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kemenkes: Puasa Bisa Atasi Stres, Cegah Cemas hingga Depresi"