![]() |
| Ilustrasi kartu tarot. (Foto: Avitia) |
Fenomena ramalan kartu tarot kini bergeser dari kesan mistis menjadi tren gaya hidup, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Bagi banyak anak muda, kartu-kartu ini bukan sekadar gambar, melainkan media untuk mengurai kegelisahan hidup.
Psikolog klinik dari Universitas Airlangga (Unair) Dian Kartika Amelia Arbi, M.Psi., menjelaskan bahwa ketertarikan Gen Z pada tarot sering kali muncul sebagai respons saat mereka merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Dalam perspektif psikologi, individu cenderung mencari penjelasan eksternal untuk mendapatkan rasa tenang.
Tarot menawarkan narasi yang dapat mengurangi kecemasan karena memberikan bayangan atau prediksi tentang masa depan. Hal ini kemudian menjadi salah satu bentuk coping mechanism (mekanisme koping) bagi mereka yang merasa kesulitan memprediksi arah hidupnya.
"Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang," jelas Dian dikutip dari laman Unair.
Jebakan Self-Fulfilling Prophecy
Meskipun bisa menenangkan, Dian memberikan peringatan agar Gen Z tidak terlalu mengandalkan tarot dalam proses penyelesaian masalah (problem solving). Salah satu dampak negatif yang perlu diwaspadai adalah fenomena self-fulfilling prophecy.
Dalam psikologi, ini berarti sebuah ramalan menjadi kenyataan bukan karena ramalan itu sakti, melainkan karena individu sudah terlanjur meyakininya. Akibat keyakinan tersebut, energi dan perilaku individu tanpa sadar mengarah pada hal yang mereka prediksi sebelumnya, sehingga ramalan itu seolah benar-benar terjadi.
Kondisi ini berbahaya jika membuat seseorang pasrah pada nasib dan enggan memperbaiki situasi diri.
"Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving," tuturnya.
Tips Mengelola Stres Secara Sehat
Alih-alih bergantung sepenuhnya pada faktor eksternal seperti tarot, Dian menyarankan Gen Z, maupun individul lainnya untuk belajar mengelola stres secara mandiri melalui beberapa langkah, yakni:
- Journaling: Menuliskan perasaan dan pikiran untuk membantu pemrosesan emosi.
- Manajemen Waktu: Mengelola rutinitas agar tidak merasa kewalahan.
- Pola Hidup Sehat: Mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga secara rutin.
Dosen Fakultas Psikologi UNAIR ini juga menekankan bahwa jika krisis emosional sudah tidak mampu ditangani sendiri, langkah terbaik adalah mendatangi profesional seperti psikolog atau psikiater guna mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Alasan Psikologis Ramalan Tarot Jadi 'Pegangan Hidup' Andalan Gen Z"
