Hagia Sophia

23 January 2026

Komentar PERSAGI Terkait MBG Tetap Jalan saat Bulan Puasa

Foto: ANTARA FOTO/Yudi Manar

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menilai pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) selama Ramadan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti jenis menu makanan. Menurut PERSAGI, yang jauh lebih penting adalah menyusun strategi distribusi dan sistem pelayanan yang menyesuaikan dengan waktu puasa.

Ketua Umum DPP PERSAGI, Doddy Izwardy, menekankan hal tersebut perlu dibahas terlebih dulu.

"Nah, ini justru yang sulit. Artinya harus ada strateginya. Apalagi Indonesia jam bukanya beda-beda. Jadi memang harus ada identifikasi dulu," kata Doddy saat ditemui Rabu (21/1/2026).

Doddy menekankan, pemerintah tidak bisa langsung memutuskan menu apa yang diberikan selama Ramadan tanpa melihat kondisi riil di lapangan. Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi menyeluruh.

"Identifikasi dulu semuanya. Jangan langsung bicara, 'ini dikasih apa, polanya bagaimana'. Libatkan sekolah, libatkan dunia pendidikan. Karena kan ada yang tidak puasa, ada yang puasa," jelasnya.

Bagi siswa non-Muslim, program MBG bisa tetap berjalan seperti biasa. Namun untuk siswa Muslim yang berpuasa, skemanya perlu dikemas berbeda, termasuk soal waktu makan dan distribusi.

"Nah, itu yang tidak mudah," ujarnya.

Doddy juga mengingatkan, mengganti menu ke makanan yang lebih tahan lama bukan solusi sederhana. Misalnya, mengganti nasi dengan roti.

"Nasi kan tidak tahan lama. Berarti ganti roti. Tapi nanti dikritik lagi, dibilang ultra-proses segala macam. Jadi kan tidak sesederhana itu," katanya.

Menurutnya, secara keilmuan, ahli gizi sebenarnya mampu memilah bahan pangan yang lebih tahan lama. Namun, persoalan utama bukan hanya di jenis makanan, melainkan di sistem produksi dan distribusinya.

"Ini bukan soal menu. Menu itu justru tidak bisa jadi solusi utama," tegas Doddy.

Sebagai gambaran, Doddy menyebut sistem penyediaan makanan di rumah sakit, khususnya untuk pasien yang sedang berpuasa.

"Di rumah sakit itu kan jelas. Dia puasa, sudah diatur kapan dimasak, kapan dikasih, kapan dimakannya. Semua berdasarkan jam," jelasnya.

Menurut Doddy, pendekatan serupa bisa diterapkan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG.

"Kalau bukanya jam 6, ya masaknya menyesuaikan. Tapi bagaimana distribusinya? Nah, itu yang jadi pertanyaan. Berarti ada tambahan biaya, ada perubahan sistem kerja," katanya.

Doddy menekankan, selama ini sistem MBG dirancang untuk makan pagi atau siang. Sementara di bulan Ramadan, waktu makan utama justru berpindah ke sore atau malam hari.

"Kalau selama ini masak pagi buat makan pagi, sekarang mau makannya malam. Berarti jam kerja berubah, pola kerjanya berubah. Itu yang harus dipikirkan," ujarnya.

Karena itu, ia menilai kunci utama penyesuaian MBG selama Ramadan ada pada strategi operasional, bukan sekadar mengganti menu makanan.

"Ini soal strategi. Kalau saya di SPPG, yang saya ubah itu strateginya, bukan sekadar menunya," pungkas Doddy.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Respons PERSAGI soal MBG Tetap Jalan saat Puasa, Pakai Menu Tahan 12 Jam"