Hagia Sophia

11 February 2026

Seorang Korban Virus Nipah Meninggal di Bangladesh, Ini Kata Eks Petinggi WHO

Ilustrasi (Foto: Getty Images/Manjurul)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat melaporkan seorang perempuan meninggal dunia di Bangladesh bagian utara pada Januari lalu setelah terinfeksi virus Nipah yang mematikan.

Kasus kematian di Bangladesh ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan global menyusul ditemukannya dua kasus virus Nipah di India. Situasi tersebut mendorong sejumlah negara di Asia memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara.

WHO menyebutkan, pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah, namun diketahui memiliki kebiasaan mengonsumsi air nira kurma (date palm sap) mentah. Sebanyak 35 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien telah dipantau dan dinyatakan negatif virus Nipah. Hingga saat ini, belum ditemukan kasus tambahan.

Menyoroti hal tersebut, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama menilai kasus tersebut menjadi pengingat serius bagi dunia, termasuk Indonesia.

"Harus diakui kita cukup terkejut dengan laporan kematian akibat infeksi virus Nipah di Bangladesh," tuturnya melalui keterangan resmi yang diterima detikcom, Minggu (8/2/2026).

"Setidaknya ada lima hal penting dari kejadian ini yang perlu diwaspadai," ujarnya.

Ia menjelaskan, kasus ini terjadi pada seorang perempuan berusia 40-50 tahun yang tinggal di Distrik Naogaon, Divisi Rajshahi, wilayah timur laut Bangladesh. Artinya, kasus ini tidak berkaitan langsung dengan laporan kasus di India, sehingga menunjukkan penyebaran yang melibatkan lebih dari satu negara dan membutuhkan perhatian global.

Tak hanya itu, Prof Tjandra juga menyoroti perjalanan penyakit pasien berlangsung sangat cepat. Gejala awal muncul pada 21 Januari 2026 berupa demam, sakit kepala, kejang otot, hilang nafsu makan, tubuh lemah, dan muntah. Kondisi kemudian memburuk dengan hipersalivasi, disorientasi, hingga kejang.

Pada 27 Januari pasien tidak sadarkan diri, dan sehari kemudian meninggal dunia, tepat di hari pengambilan sampel pemeriksaan laboratorium. Cepatnya perburukan ini mencerminkan keganasan virus Nipah yang memang memiliki angka kematian tinggi.

"Ketiga adalah peran penting pemeriksaan laboratorium. Bangladesh mengkonfirmasi kasus yang meninggal ini terinfeksi virus Nipah ("NiV infection") berdasar pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan deteksi antibodi anti-Nipah IgM dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pemeriksaan laboratorium ini juga dilakukan pada kontak yang bergejala," sambungnya.

Riwayat pasien yang mengkonsumsi air nira kurma mentah kembali menguatkan jalur penularan virus Nipah, selain melalui kontak langsung dengan kelelawar atau buah yang terkontaminasi. Hal ini, menurut Prof Tjandra, pentingnya edukasi kesehatan masyarakat secara luas dan berkelanjutan.

Setelah kasus ini terkonfirmasi, lanjutnya, Bangladesh segera melakukan investigasi wabah dan penelusuran kontak. Dari 35 kontak yang ditelusuri, enam orang sempat menunjukkan gejala, terdiri dari tiga kontak rumah tangga, dua kontak di masyarakat, dan satu tenaga kesehatan, namun seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan hasil negatif.

"Memang semua negara amat memerlukan sedikitnya tiga tim. Ke satu tim investigasi wabah yang handal dan kerja cepat dan nyata di lapangan pada keadaan seperti ini, ke dua tentu tim di Klinik dan rumah sakit yang menangani pasiennya serta ketiga tim laboratorium yang terjamin presisinya, semuanya harus ditunjang dengan sarana dan prasarana memadai," lanjutnya.

"Jadi sesudah berbagai berita tentang kasus virus Nipah di India di awal 2026 maka akhirnya kita dihadapkan dengan kasus kematian di negara lain, yaitu di Bangladesh. Artinya semua negara -termasuk kita- tentunya perlu mengambil langkah yang diperlukan, guna melindungi masyarakat kita," imbuhnya lagi.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ngeri Virus Nipah Makan Korban di Bangladesh, Eks Petinggi WHO Soroti Hal Ini"