Hagia Sophia

10 December 2022

Epidemiolog: Evolusi BN.1 Bisa Munculkan Varian Corona Super

Ilustrasi virus COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Naeblys)

Ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia mewanti-wanti risiko BN.1 yang bisa memicu virus SARS-CoV-2 terus berevolusi. Pasalnya, varian ini memiliki karakter yang menyebabkan reinfeksi COVID-19 lebih besar terjadi.

Menurut Dicky, BN.1 juga lebih cepat atau lebih mudah menular. "Karena dia lebih mudah terikat pada receptor ACE2 dan lebih mampu mereplikasi," sebutnya kepada detikcom Jumat (9/12/2022).

Ketika dua faktor tersebut bertemu, bukan tidak mungkin akan melahirkan sub varian atau varian baru super. Terlebih, jika tidak ada pencegahan yang dilakukan untuk memutus rantai penularan COVID-19.

"Bayangkan ketika mitigasi kurang, maka re infeksi ini akan membuat virus ini lebih mudah bereplikasi dan bermutasi yang dikhawatirkan akan melahirkan subvarian yang super," sambung dia.

"Nah ini yang harus dihindari, artinya potensi menyebabkan keparahan, bisa ada ketika dia melahirkan sub varian super tadi, saat ini vaksin yang ada memang efektif," lanjutnya.

Dicky berpesan agar pemerintah memastikan mitigasi atau pencegahan yang kuat dalam aktivitas jelang Natal dan Tahun Baru. Seluruh warga yang beraktivitas disarankan sudah menerima vaksin COVID-19 booster.

Dicky khawatir varian super yang berisiko muncul bisa mengalahkan efektivitas vaksin COVID-19 yang ada sehingga tak lagi efektif.

"Vaksin-nya masih efektif namun kita nggak tahu jika lahir sub varian baru atau varian baru super yang bisa jadi musibah menurunkan efektivitas vaksinasi," sambung dia.

Kabar baiknya, jika tak lahir varian super, akhir dari pandemi sudah bisa terlihat triwulan pertama tahun depan. "Tapi kita lihat jangan sampai kelihatan varian-varian super," pungkas dia.






















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Epidemiolog Wanti-wanti Evolusi BN.1 Bisa Munculkan Varian Corona Super"