Hagia Sophia

21 June 2023

Tips Atasi Anak yang Suka Main Roleplayer di TikTok

Viral seorang anak main roleplay di media sosial (Foto: Tangkapan layar viral/TikTok)

Viral sebuah video yang memperlihatkan seorang ayah memarahi anak perempuannya. Bukan tanpa sebab, sang ayah memarahinya lantaran anaknya itu kedapatan bermain game roleplay (RP) di TikTok.

Setelah ditelusuri lebih jauh, si anak ternyata melakukan roleplay yang tak 'pantas' untuk seusianya bersama orang-orang yang tidak dikenalnya.

Roleplay diambil dari kosa kata bahasa Inggris yang berarti 'bermain peran'. Menurut kamus Cambridge, roleplay adalah kegiatan berpura-pura menjadi karakter tertentu, dan berperilaku serta bereaksi seperti karakter tersebut.

Di sosial media, seperti TikTok, roleplay adalah permainan yang dilakukan dengan cara berpura-pura menjadi orang lain, baik itu kartun, selebritas, atau orang terkenal lainnya untuk memperoleh kesenangan. Mereka yang memainkan roleplay di sosial media disebut roleplayer yang artinya pemain roleplay.

Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, salah satu alasan anak bermain roleplay dengan orang asing di media sosial karena ingin untuk mendapatkan perlakuan tertentu, yang tak bisa mereka peroleh di dunia nyata. Perlakuan tersebut misalnya, seperti komunikasi, kehangatan, apresiasi, atau penghargaan dari orang sekitar.

"Ketika dia roleplay, ada kenyamanan, 'ternyata senang ya aku jadi peran ini'. Itu di otaknya akan keluar hormon dopamine yang bikin kenyamanan bagi dia," ungkap dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Minggu (18/6/2023).

"Dia akan merasa tenang dan nyaman sesaat, tapi ketika sudah menurun dia tidak punya cara lain lagi untuk mendapatkan ketenangan itu selain melakukan hal yang sama, sehingga terjadilah pola perilaku yang berulang-ulang," sambungnya.

Cara Mengatasinya

Menurut dr Lahargo, sebaiknya mengajak anak bermain peran di dunia nyata daripada membiarkannya bermain roleplay di dunia maya. Hal ini karena anak sangat bergantung pada figur bermakna. Jika anak banyak terpapar hal-ha imajinatif, terdapat risiko anak mengalami gangguan jiwa di masa mendatang.

"Roleplay yang paling baik sebenarnya kan di dunia nyata. Anak punya life skill, keterampilan hidup. Keterampilan hidup itu seperti bagaimana cara berinteraksi berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana melakukan resolusi konflik, menghadapi tekanan dari teman sebaya, bagaimana berinteraksi, berbicara dengan orang lain. Itu kan yang paling baik dilakukan di dunia nyata," jelasnya.

"Lebih banyak manfaat yang akan didapat ketika roleplay itu dilakukan di dunia nyata," pungkas dr Lahargo.

Begitu juga apabila seorang anak dibiarkan bermain roleplay di dunia maya, bisa berisiko mengalami pelecehan seksual dan kekerasan verbal yang berdampak traumatis pada anak. Bahkan berisiko mengalami gangguan kemampuan dalam menilai realitas.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Anak Doyan Main Roleplay di TikTok, Psikiater Beberkan Cara Mengatasinya"