![]() |
| Foto: Getty Images/diegograndi |
Amerika Serikat resmi menyelesaikan proses penarikannya dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini dikonfirmasi Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS atau Health and Human Services (HHS) pada Kamis waktu setempat, menuntaskan salah satu agenda lama Presiden Donald Trump.
Pada hari pertama masa jabatan kedua Trump, ia kembali mengeluarkan perintah eksekutif untuk memulai proses keluar dari WHO, yang sudah ia wacanakan sejak masa jabatan pertama. Berdasarkan aturan, AS harus memberikan pemberitahuan satu tahun sebelumnya dan melunasi seluruh kewajiban keuangan sebelum resmi hengkang.
Masalahnya, hingga kini AS masih menunggak sekitar 260 juta dolar AS kepada WHO. Meski begitu, para ahli hukum menilai kecil kemungkinan AS akan membayar utang tersebut, dan WHO juga tidak memiliki mekanisme kuat untuk memaksanya.
"Secara hukum, sangat jelas bahwa Amerika Serikat tidak bisa resmi keluar dari WHO tanpa membayar kewajiban keuangannya. Tapi WHO tidak punya kekuatan untuk memaksa AS membayar," kata pakar hukum kesehatan global dari Georgetown University, Dr. Lawrence Gostin, dikutip dari CNN Jumat (23/1/2026).
Secara teoritis, WHO bisa mengeluarkan resolusi yang menyatakan AS tak bisa keluar sebelum melunasi kewajibannya. Namun, menurut Gostin, langkah itu kemungkinan tidak akan diambil karena berisiko memperkeruh hubungan, saat Trump tetap bersikeras keluar.
Pada Kamis, HHS mengumumkan seluruh pendanaan pemerintah AS untuk WHO telah dihentikan. Semua personel dan kontraktor AS yang bekerja atau ditempatkan di WHO juga telah ditarik. Selain itu, AS tidak lagi berpartisipasi dalam komite, struktur kepemimpinan, badan tata kelola, maupun kelompok kerja teknis yang disponsori WHO.
Meski begitu, HHS masih membuka peluang kerja sama terbatas. Saat ditanya apakah AS akan ikut serta dalam pertemuan WHO terkait penentuan komposisi vaksin flu tahun depan, pemerintah mengatakan pembicaraan soal itu masih berlangsung.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan, AS selama ini tidak mendapatkan imbal hasil yang sepadan dari uang dan sumber daya manusia yang telah diberikan ke WHO.
"Janji dibuat dan janji ditepati," ujar pejabat tersebut. Ia menuding WHO telah bertindak bertentangan dengan kepentingan AS dalam melindungi rakyat Amerika.
Pemerintah AS juga menyoroti peran WHO saat pandemi COVID-19. Menurut HHS, WHO terlalu lambat menetapkan status darurat kesehatan global, yang membuat dunia kehilangan waktu berharga ketika virus mulai menyebar.
"Pada periode itu, pimpinan WHO justru memuji respons China, meski ada bukti soal pelaporan tidak lengkap, penekanan informasi, dan keterlambatan konfirmasi penularan antarmanusia," tulis HHS dalam pernyataannya.
HHS juga mengkritik WHO yang dinilai lamban mengakui penularan virus lewat udara serta meremehkan potensi penularan dari orang tanpa gejala.
"Keputusan ini berarti kebijakan kesehatan negara kami tidak lagi dibatasi oleh birokrat asing yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban," ujar pejabat HHS.
Meski berpisah dari WHO, pemerintahan Trump menegaskan AS akan tetap menjadi pemimpin dalam kesehatan global. Strategi barunya belum diumumkan secara rinci, namun AS disebut akan tetap bekerja sama dengan negara lain lewat perjanjian bilateral, organisasi non-pemerintah, dan kelompok keagamaan, terutama dalam pemantauan penyakit menular dan berbagi data.
Upaya ini akan dipimpin oleh Global Health Center milik CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS).
Namun, sejumlah pakar meragukan efektivitas pendekatan tersebut. Menurut mereka, sistem kerja sama bilateral akan menciptakan 'tambal sulam' yang tidak bisa menggantikan peran WHO.
"Tidak akan ada tingkat kemitraan dan pengawasan yang sama seperti jika bekerja melalui WHO," kata seorang mantan pejabat CDC.
Kritik juga datang dari kalangan medis. Presiden Infectious Disease Society of America, Dr Ronald Nahass, menyebut langkah ini sebagai keputusan yang rabun jauh ke depan.
"Penarikan diri AS dari WHO adalah pengabaian yang keliru terhadap komitmen kesehatan global. Kuman tidak mengenal batas negara," ujarnya.
Dr Lawrence Gostin bahkan menyebut keputusan ini sebagai yang paling merusak dalam hidupnya.
"Kita tidak akan punya akses cepat ke data epidemiologi, sampel virus, dan data genom untuk membuat vaksin dan obat. Saat pandemi berikutnya datang. dan itu pasti datang, AS tidak akan siap," tegasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyebut keputusan AS keluar dari WHO sebagai situasi yang merugikan.
"Amerika Serikat rugi, dan dunia juga pasti rugi," katanya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Trump Selesaikan Proses Administrasi, AS Resmi Keluar dari WHO"
