![]() |
| Foto: Judgefloro/Wikimedia Commons/CC0 |
Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Gunung Sindur, Pengasinan 1, Kabupaten Bogor, belakangan menuai kontroversi setelah menyajikan buah kecapi. Dalam video yang viral di media sosial sejak Senin (19/1/2026), buah tersebut dinilai tidak tepat diberikan kepada penerima MBG yang mayoritas merupakan balita, anak PAUD, TK, hingga SD.
Menanggapi polemik tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pengasinan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
"Untuk penerima manfaat, saya selaku Kepala SPPG Bogor Gunung Sindur Pengasinan memohon maaf atas ketidaksesuaian," ujar Kepala SPPG melalui akun Instagram @sppgdesapengasinan, Selasa (20/1/2026).
SPPG menjelaskan, buah kecapi dipilih sebagai bagian dari menu MBG dengan tujuan mengedukasi penerima manfaat agar lebih mengenal buah-buahan lokal. Namun, setelah menu tersebut mendapat respons negatif dari masyarakat, pihaknya mengaku akan melakukan evaluasi dalam pemilihan buah agar kejadian serupa tidak terulang.
Benarkah buah kecapi tidak cocok untuk anak-anak?
Dokter dan ahli gizi masyarakat dr Tan Shot Yen menegaskan, dari sisi kandungan gizi, buah kecapi sebenarnya tidak bermasalah untuk dikonsumsi anak-anak.
"Bisa (untuk anak-anak), sebagai kebutuhan antioksidan dan meningkatkan imunitas seperti buah lain pada umumnya," kata dr Tan, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, buah kecapi pada dasarnya mengandung berbagai zat gizi seperti antioksidan, vitamin C, dan mineral, layaknya buah-buahan lain. Penolakan yang muncul lebih disebabkan karena buah ini tidak familiar di masyarakat.
"Masyarakat mungkin tidak terbiasa mengonsumsi buah kecapi, terutama anak-anak," lanjut dr Tan.
Ia menilai, di sinilah peran ahli gizi dan pengelola program makanan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama dalam memperkenalkan pangan lokal yang sebenarnya memiliki nilai gizi baik.
"Perlu ada edukasi. Kalau tidak pernah dikenalkan, ya akan selalu dianggap aneh atau tidak cocok," tambahnya.
Secara ilmiah, buah kecapi atau santol (Sandoricum koetjape) memang dikenal luas di Asia Tenggara dan tidak hanya dimanfaatkan sebagai buah konsumsi, tetapi juga dalam pengobatan tradisional. Sejumlah publikasi ilmiah mencatat, berbagai bagian tanaman kecapi, mulai dari buah, daun, hingga batang, mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, limonoid, dan terpenoid.
Dikutip dari Pubmed, senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Salah satu komponen pentingnya adalah koetjapic acid, sejenis triterpenoid yang dalam berbagai studi memiliki potensi antiinflamasi dan bahkan antikanker.
Meski begitu, para peneliti juga mencatat biji kecapi bersifat toksik dan tidak boleh dikonsumsi. Artinya, buah kecapi aman dimakan selama diolah dan disajikan dengan benar, tanpa menyertakan bijinya.
Sejumlah kajian bahkan menyebut konsumsi buah santol atau kecapi berpotensi memberi manfaat kesehatan dan layak dipromosikan sebagai bagian dari pemanfaatan tanaman lokal untuk mendukung pola hidup sehat.
Dengan demikian, secara gizi, buah kecapi bukanlah pilihan yang keliru. dr Tan menekankan bahwa aspek penerimaan anak dan kesiapan edukasi tetap harus menjadi pertimbangan dalam penyusunan menu MBG.
"Bukan cuma soal gizinya, tapi juga soal kebiasaan makan, tekstur, rasa, dan bagaimana anak-anak dikenalkan dengan makanan itu," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "dr Tan Bicara Nutrisi Buah Kecapi yang Viral Diprotes gegara Jadi Menu MBG"
