Hagia Sophia

26 January 2026

Benarkah Rasa Makan Pedas Bisa Atasi Flu? Ini Faktanya

Sambel kerap jadi andalan saat gejala flu mulai menyerang. Foto: Getty Images/Joko Prasetyo

Dalam beberapa hari terakhir, hujan kerap mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Di tengah cuaca dingin dan basah ini, flu pun lebih mudah menyerang. Tak heran, banyak orang spontan mencari bakso kuah panas dengan sambal melimpah, atau aneka makanan berkuah yang pedas-mulai dari soto, seblak, hingga mi kuah ekstra cabai. Sensasi hangat bercampur pedas sering bikin hidung terasa lebih lega, badan berkeringat, dan tenggorokan terasa "plong".

Tak heran pula jika kemudian muncul anggapan bahwa makan pedas saat flu bisa membantu tubuh lebih cepat pulih. Namun, benarkah sensasi lega tersebut menjadi tanda flu mulai sembuh, atau sebenarnya hanya efek sementara dari pedas dan kuah panas yang masuk ke tubuh?

Pedas Membantu Melegakan Hidung yang Tersumbat

Sensasi lega setelah menyantap bakso kuah pedas atau makanan berkuah dengan sambal bukan sekadar sugesti. Rasa pedas dari cabai berasal dari senyawa capsaicin, yang bekerja merangsang saraf di mulut dan hidung. Rangsangan ini memicu refleks alami tubuh berupa peningkatan produksi lendir yang lebih encer, sehingga hidung terasa lebih "terbuka" dan ingus lebih mudah keluar.

Mekanisme ini juga didukung oleh sejumlah penelitian ilmiah yang membandingkan efek capsaicin dengan plasebo, yakni cairan netral tanpa zat aktif. Hasilnya menunjukkan bahwa rasa lega yang muncul memang berkaitan dengan kerja zat pedas tersebut di tubuh, bukan semata efek sugesti.

Itulah sebabnya, setelah makan pedas, hidung yang sebelumnya mampet bisa terasa lebih lega, meski efeknya hanya sementara. Namun perlu diingat, makan pedas tidak menyembuhkan flu. Efeknya hanya membantu melegakan hidung dan tenggorokan yang terasa tidak nyaman.

Efek Hangat dan Berkeringat Bikin Badan Terasa Lebih Enak

Makanan pedas tak hanya membantu pernapasan terasa lebih lancar, tapi juga menimbulkan sensasi hangat di tubuh hingga memicu keluarnya keringat. Efek ini berkaitan dengan kerja capsaicin yang merangsang reseptor panas pada saraf, sehingga tubuh merespons seolah suhu sedang meningkat. Akibatnya, pembuluh darah melebar dan keringat keluar sebagai cara tubuh menyeimbangkan suhu. Tak heran jika setelah makan pedas, badan terasa lebih ringan dan "enakan", terutama saat flu disertai rasa tidak nyaman.

Efek hangat ini juga pernah dikaji dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Phytotherapy Research, yang meneliti pengaruh senyawa pedas dari cabai terhadap proses pembentukan panas tubuh (thermogenesis). Dibandingkan dengan plasebo, konsumsi capsaicin dikaitkan dengan peningkatan produksi panas dan pengeluaran energi, yang membantu menjelaskan kenapa tubuh bisa terasa lebih hangat dan berkeringat setelah makan pedas. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa respons ini bersifat sementara dan tidak berarti tubuh sedang melawan virus flu secara langsung.

Sama-Sama Menghangatkan, Apa Beda Pedasnya Cabai dan Jahe?

Meski sama-sama memberi sensasi hangat, pedas dari cabai dan jahe bekerja dengan cara yang berbeda di tubuh. Cabai mengandung capsaicin yang merangsang saraf nyeri dan panas, sehingga efeknya terasa cepat dan kuat, tetapi berisiko memicu iritasi pada lambung dan tenggorokan pada sebagian orang.

Sementara itu, jahe mengandung senyawa gingerol dan shogaol yang memberi rasa hangat lebih lembut. Jahe juga dikenal memiliki efek menenangkan pada saluran pencernaan dan sering digunakan untuk membantu meredakan mual atau rasa tidak nyaman di perut. Karena efeknya lebih ringan, jahe kerap dianggap lebih bersahabat dikonsumsi saat flu, terutama bagi orang yang sensitif terhadap pedas cabai.

Meski demikian, jahe tetap perlu dikonsumsi secukupnya. Jahe yang terlalu pekat atau dikonsumsi berlebihan dapat memicu rasa panas di lambung pada sebagian orang. Para ahli kesehatan umumnya menganggap konsumsi jahe aman hingga sekitar 3-4 gram per hari untuk orang dewasa sehat, setara dengan sebuah ruas jempol jahe yang diiris atau direbus. Di luar jumlah tersebut, risiko rasa tidak nyaman di perut bisa meningkat. Artinya, baik cabai maupun jahe sama-sama boleh dikonsumsi saat flu, selama tubuh merasa nyaman dan tidak muncul keluhan setelahnya.

Siapa yang Sebaiknya Menghindari Makanan Pedas?

Meski sebagian orang merasa lebih lega setelah makan pedas, tidak semua kondisi cocok dengan asupan cabai saat flu. Pada orang dengan maag, asam lambung, atau gangguan pencernaan, makanan pedas justru bisa memperparah keluhan seperti perih, mual, atau nyeri ulu hati. Saat flu, kondisi tubuh yang sedang tidak fit juga dapat membuat lambung lebih sensitif dari biasanya.

Selain itu, jika flu disertai radang tenggorokan, batuk kering, atau suara serak, makanan pedas berpotensi menimbulkan rasa perih dan iritasi, sehingga keluhan terasa makin tidak nyaman. Pada kondisi ini, makanan dan minuman hangat yang tidak pedas, seperti sup bening atau minuman jahe ringan, sering kali lebih bersahabat untuk tubuh.

Intinya, makan pedas saat flu boleh saja jika tubuh terasa nyaman. Namun bila setelahnya keluhan justru bertambah, sebaiknya hentikan dan pilih asupan yang lebih lembut. Dengarkan respons tubuh, karena yang paling dibutuhkan saat flu tetaplah istirahat, cairan yang cukup, serta makanan yang mudah diterima tubuh, seperti sup bening, bubur, atau bakso kuah dengan bumbu ringan yang tetap memberi kehangatan tanpa memperberat pencernaan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jadi Andalan di Musim Hujan, Benarkah Makan Pedas Bisa Atasi Flu? Ini Faktanya"