Hagia Sophia

26 January 2026

Gejalanya Sering Diabaikan, Kasus Kanker Kolorektal Makin Banyak di Usia Muda

Ilustrasi pasien. (Foto: iStock)

Jenna Scott masih mengingat betul kebahagiaan saat mengandung anak pertamanya. Namun, di balik itu, ada satu hal lain yang terus menghantuinya, nyeri perut hebat tak kunjung hilang.

Selama hamil, perempuan di Amerika Serikat itu sudah berkali-kali mengeluhkan rasa sakit tersebut kepada dokter. Jawaban yang ia terima selalu sama, itu normal, bagian dari kehamilan.

Namun, setelah melahirkan bayi laki-laki yang sehat, rasa sakit itu tidak pergi. Nyeri terus bertahan.

Lebih dari setahun kemudian, hidup Scott berubah drastis. Ia didiagnosis kanker usus besar stadium 4. Saat itu usianya baru 31 tahun.

"Kami melakukan kolonoskopi, dan ketika saya bangun, ada suami saya, dokter, dan empat perawat di ruangan. Dokter bilang, ia bahkan tidak perlu mengirim sampel ke patologi untuk tahu bahwa saya kena kanker," tutur Scott, yang kini berusia 39 tahun.

Kanker stadium 4 berarti kanker telah menyebar ke organ lain. Pada Scott, penyakit itu menjalar dari usus besar ke hati.

"Saya selalu merasa sangat sehat. Atlet seumur hidup. Bahkan saya tidak tumbuh besar dengan makan daging merah. Dalam sekejap, hidup saya berubah total. Kata 'kanker' itu seperti tidak pernah ada di dunia saya. Bagi saya, kanker berarti kematian," katanya.

Scott bukan kasus satu-satunya. Dalam beberapa tahun terakhir, kanker kolorektal, yang mencakup kanker usus besar dan rektum, justru menjadi ancaman paling mematikan bagi kelompok usia muda.

Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal medis JAMA menunjukkan, sejak 2023, kanker kolorektal menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor satu pada orang berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat.

Padahal, untuk jenis kanker lain, angka kematian pada kelompok usia muda justru cenderung menurun.

Penelitian itu menemukan, kematian akibat kanker usus besar dan rektum pada kelompok usia di bawah 50 tahun meningkat rata-rata 1,1 persen per tahun sejak 2005. Akibat tren ini, kanker kolorektal yang pada awal 1990-an masih berada di peringkat kelima, kini melonjak menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor satu pada 2023.

"Kami tidak tahu persis mengapa ini meningkat," kata Dr Ahmedin Jemal, penulis utama studi tersebut dari American Cancer Society.

"Untuk penyebab kematian kanker utama lainnya, angkanya menurun. Hanya kanker kolorektal yang justru meningkat. Dan kami belum sepenuhnya memahami apa yang mendorong beban ini," ujarnya.

Para peneliti menganalisis data kematian akibat kanker pada kelompok usia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat dari 1990 hingga 2023. Secara keseluruhan, angka kematian akibat kanker pada kelompok usia ini sebenarnya turun hingga 44 persen. Namun, penurunan itu tidak berlaku untuk kanker kolorektal.

Pada 2023, lima penyebab utama kematian akibat kanker pada kelompok usia di bawah 50 tahun adalah: kanker kolorektal, kanker payudara, kanker otak, kanker paru-paru, dan leukemia.

"Kita tidak bisa lagi menyebut ini sebagai penyakit orang tua," kata Jemal.

"Kita harus serius meneliti apa yang mendorong 'tsunami' kanker ini pada generasi yang lahir setelah 1950."

Bagi Scott, temuan ini terasa menyesakkan. Setelah bertahun-tahun menjalani kemoterapi, terapi target, dan operasi, kondisinya kini stabil. Namun, ia harus terus menjalani pengobatan tanpa batas waktu, karena setiap kali terapi dihentikan, kanker kembali muncul dan menyebar ke organ lain.

Gejala yang Diabaikan

Data dari Colorectal Cancer Alliance menunjukkan, hampir 60 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis setiap hari pada orang berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat, sekitar satu kasus setiap 25 menit.

Para ahli menekankan pentingnya skrining atau pemeriksaan dini. Saat ini, orang dengan risiko rata-rata dianjurkan mulai menjalani skrining kanker kolorektal pada usia 45 tahun. Namun, kenyataannya, baru sekitar 37 persen orang berusia 45 hingga 49 tahun yang sudah menjalani pemeriksaan secara rutin.

"Pemeriksaan ini bukan hanya mendeteksi kanker pada tahap awal, tapi juga bisa mencegah kanker dengan mengangkat polip sebelum berubah menjadi ganas," kata Jemal.

Namun, skrining saja tidak cukup.

Dr Y Nancy You dari MD Anderson Cancer Center mengingatkan, ada celah besar dalam mendiagnosis anak muda yang sebenarnya sudah bergejala.

"Ada banyak orang muda yang punya gejala, tapi menunda periksa karena sibuk, takut, atau ketika akhirnya ke dokter, keluhannya dianggap cuma wasir atau masalah sepele," ujarnya.

Gejala kanker kolorektal bisa berupa:
  • darah pada tinja
  • perubahan kebiasaan buang air besar
  • nyeri perut yang menetap
  • lemas berkepanjangan
  • penurunan berat badan tanpa sebab
  • rasa tidak tuntas setelah buang air besar.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gejala Kanker Kolorektal yang Sering Diabaikan, Kasusnya Makin Banyak di Usia Muda"