![]() |
| Whipped cream. Foto: Getty Images/urbazon |
Penggunaan Whip Pink dalam proses pembuatan whipped cream belakangan menarik perhatian publik. Produk ini kerap disorot karena masih banyak disalahpahami sebagai bahan makanan, padahal fungsinya berbeda.
Sebenarnya apa itu Whip Pink? bagaimana perannya dalam pengolahan makanan, potensi risiko jika disalahgunakan, serta bagaimana cara penggunaannya yang benar? Mari dikupas satu per satu.
Whip Pink yang ramai diperbincangkan merupakan tabung gas berisi nitrous oxide (N₂O) yang digunakan dalam proses pembuatan whipped cream di industri makanan dan minuman. Gas ini merupakan agen pengembang yang dipakai bersama alat khusus bernama whipped cream dispenser. Ketika gas dilepaskan ke dalam dispenser berisi krim cair, nitrous oxide membantu membentuk tekstur krim yang mengembang, ringan, dan stabil.
Dalam konteks kuliner, nitrous oxide telah lama digunakan secara profesional karena sifatnya yang tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah larut dalam lemak. Namun, penggunaannya hanya diperuntukkan untuk keperluan dapur dan harus mengikuti prosedur yang benar.
Pemahaman ini penting untuk melihat Whip Pink sebagai alat bantu pengolahan, bukan produk konsumsi. Dari sini kemudian muncul pertanyaan yang banyak dibicarakan publik: apakah whipped cream yang dibuat dengan bantuan Whip Pink aman untuk dikonsumsi?
Amankah Whipped Cream yang Dibuat Menggunakan Whip Pink?
Whipped cream yang dibuat menggunakan Whip Pink tidak berbahaya untuk dikonsumsi, selama diolah dan dikonsumsi secara wajar. Whip Pink berisi gas nitrous oxide (N₂O) yang berfungsi sebagai alat bantu proses untuk mengembangkan krim di dalam whipped cream dispenser. Gas tersebut tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi dan akan menguap saat krim dikeluarkan dari alat, sehingga tidak menjadi bagian dari produk akhir yang dimakan.
Risiko kesehatan yang selama ini disorot bukan berasal dari whipped cream, melainkan dari penyalahgunaan gas nitrous oxide, khususnya jika dihirup secara langsung di luar konteks pengolahan pangan. Sementara itu, whipped cream sendiri pada dasarnya adalah produk olahan berbahan krim dan gula, yang risikonya lebih berkaitan dengan kandungan kalori, lemak, dan gula apabila dikonsumsi berlebihan, bukan risiko akut akibat gas.
Dengan demikian, whipped cream aman dikonsumsi sebagai topping, sementara Whip Pink harus digunakan sesuai peruntukannya.
Lalu Apa Bahayanya?
Risiko kesehatan yang dikaitkan dengan Whip Pink tidak berasal dari whipped cream sebagai produk akhir, melainkan dari penyalahgunaan gas nitrous oxide (N₂O) di dalam tabungnya. Ketika digunakan di luar konteks kuliner-terutama jika dihirup secara langsung-gas ini dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.
Menghirup nitrous oxide dapat menyebabkan kekurangan oksigen dalam tubuh, yang berisiko memicu pusing, mual, gangguan kesadaran, hingga kehilangan keseimbangan. Pada penggunaan berulang atau dalam jumlah besar, paparan gas ini juga dikaitkan dengan gangguan sistem saraf, termasuk mati rasa pada anggota tubuh akibat terganggunya metabolisme vitamin B12.
Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Prof apt Zullies Ikawati menjelaskan bahwa gas nitrous oxide dapat memengaruhi pelepasan zat kimia di otak.
"Gas ini memengaruhi pelepasan zat kimia di otak, seperti dopamin, yang berperan dalam rasa senang dan nyaman. Inilah sebabnya pengguna bisa merasakan euforia singkat, rasa ringan, tertawa tanpa sebab, atau sensasi 'melayang'. Efek ini muncul cepat dan hilang cepat, sehingga mendorong sebagian orang untuk mengulang pemakaian," jelas Prof Zullies.
Ia menambahkan, penggunaan berulang juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
"Selain itu, penggunaan berulang dapat mengganggu fungsi vitamin B12, yang penting bagi saraf, sehingga berisiko menimbulkan kesemutan, mati rasa, gangguan berjalan, hingga kerusakan saraf yang bisa menetap," lanjutnya.
Dalam kondisi tertentu, kekurangan oksigen akibat inhalasi gas ini bahkan dapat membahayakan keselamatan. Karena itu, penting membedakan antara produk yang dikonsumsi dan alat bantu dalam proses pengolahan makanan, agar risiko kesehatan dapat dihindari dengan penggunaan yang sesuai peruntukannya.
Penggunaan Whip Pink yang Benar Sesuai Peruntukan
Whip Pink digunakan sebagai alat bantu pengolahan whipped cream dan harus dipakai bersama whipped cream dispenser. Penggunaan dimulai dengan memasukkan krim cair ke dalam dispenser sesuai kapasitas, menutupnya dengan rapat, lalu memasang tabung Whip Pink sesuai petunjuk. Dispenser kemudian dikocok agar gas tercampur merata dengan krim.
Whipped cream dikeluarkan melalui nozzle, sementara gas nitrous oxide akan menguap dan tidak ikut dikonsumsi. Karena itu, Whip Pink tidak boleh digunakan langsung dari tabung, tidak dihirup, dan tidak dilepaskan tanpa alat. Produk ini juga perlu disimpan di tempat aman, jauh dari panas dan jangkauan anak-anak.
Perlu ditegaskan, Whip Pink tidak memiliki batas konsumsi karena bukan produk yang dikonsumsi. Batasan yang berlaku adalah cara penggunaannya, yakni hanya sebagai alat bantu pembuatan whipped cream melalui dispenser dan bukan untuk dihirup secara langsung.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Bahaya 'Whip Pink' Ramai Dibahas, Apakah Whipped Cream Jadi Tak Aman? Ini Faktanya"
