![]() |
| Foto: Ilustrasi whipped cream (Getty Images/urbazon) |
Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Prof Zullies Ikawati mewanti-wanti penyalahgunaan 'whip pink' yang belakangan ramai dibahas di media sosial. Alat yang berisi dinitrogen oksida ini sebetulnya legal lantaran diperuntukkan sebagai pembuat whipped cream agar krim bisa mengembang dan bertekstur lembut.
Kandungan dinitrogen oksida juga legal atau kerap digunakan dalam dunia medis. Misalnya, pada tindakan kedokteran gigi atau persalinan, tentu memperhatikan dosis terkontrol dan selalu dicampur dengan oksigen. "Serta diawasi oleh tenaga kesehatan," sorot Prof Zullies kepada detikcom Sabtu (24/1/2026).
Masalah disebutnya muncul saat dinitrogen oksida sengaja disalahgunakan, dengan dihirup langsung di luar pengawasan medis. Pasalnya, saat masuk ke tubuh, dinitrogen oksida langsung bekerja pada otak dan sistem saraf pusat.
Apa yang terjadi?
"Gas ini memengaruhi pelepasan zat kimia di otak, seperti dopamin, yang berperan dalam rasa senang dan nyaman. Inilah sebabnya pengguna bisa merasakan euforia singkat, rasa ringan, tertawa tanpa sebab, atau sensasi 'melayang'. Efek ini muncul cepat dan hilang cepat, sehingga mendorong sebagian orang untuk mengulang pemakaian," beber Prof Zullies.
Hal yang perlu dicatat adalah risiko serius di balik penyalahgunaan gas tersebut. Dinitrogen oksida bisa menggantikan oksigen di paru-paru, sehingga tubuh menjadi kekurangan oksigen.
Bila kondisi tersebut terjadi secara berulang dan dalam jumlah besar, bisa memicu pusing, pingsan, gangguan pernapasan, bahkan fatalnya kematian mendadak.
"Selain itu, penggunaan berulang dapat mengganggu fungsi vitamin B12, yang penting bagi saraf, sehingga berisiko menimbulkan kesemutan, mati rasa, gangguan berjalan, hingga kerusakan saraf yang bisa menetap," lanjutnya.
"Karena dijual bebas sebagai alat dapur, gas ini sering dianggap aman dan 'bukan narkoba'. Padahal, meskipun bukan narkotika, N₂O tetap merupakan zat psikoaktif yang berbahaya bila disalahgunakan. Efeknya mungkin terasa ringan di awal, tetapi dampaknya terhadap kesehatan bisa berat dan tidak selalu bisa dipulihkan," wanti-wanti Prof Zullies.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyalahgunakan alat tersebut, terlebih bila hanya mengikuti tren, lantaran efek yang didapat tidak sebanding dengan ancaman risiko kesehatan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kata Profesor Farmasi soal Bahaya Mabuk 'Whip Pink', Bisa Picu Kerusakan Saraf"
