Hagia Sophia

16 January 2026

Ditemukan Kasus Alzheimer Termuda pada Remaja 19 Tahun di China

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Dokter di China mengidentifikasi kasus alzheimer termuda pada seorang remaja berusia 19 tahun. Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang memicu penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan fungsi kognitif akibat kerusakan sel-sel otak.

Penyakit ini paling sering terjadi pada orang dengan usia lanjut dan menjadi penyebab paling umum dari kondisi demensia. Para ilmuwan begitu bingung kenapa pasien remaja tersebut bisa memiliki kondisi ini.

Dikutip dari Daily Mail, pasien yang tak disebutkan namanya ini mulai mengalami penurunan daya ingat sejak usia 17 tahun. Ia sering lupa apa yang dilakukannya sehari sebelumnya dan kerap salah ingat di mana meletakkan barang.

Pada akhirnya, ia tidak dapat menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, meskipun mampu hidup mandiri.

Sebelum didiagnosis secara resmi menderita alzheimer onset dini, ia menjalani perawatan di sebuah klinik memori selama sekitar 1 tahun. Di sana, para ahli menemukan bahwa skor memori keseluruhannya 82 persen lebih rendah dibandingkan teman sebaya seusianya, sementara skor memori langsungnya 87 persen lebih rendah.

Pada tahun 2022, pemindaian otak menunjukkan adanya penyusutan pada hippocampus. Wilayah otak ini berperan penting dalam pembentukan memori dan merupakan salah satu area pertama yang terdampak pada penyakit alzheimer.

Dokter di klinik tersebut menganalisis cairan serebrospinalnya dan menemukan penanda khas alzheimer, termasuk kadar protein amiloid dan protein tau yang tidak normal. Ketika dilakukan penelusuran menyeluruh terhadap DNA-nya untuk mencari mutasi genetik yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit ini, hasilnya nihil.

Hampir semua pasien yang didiagnosis alzheimer di bawah usia 30 tahun memiliki mutasi genetik tertentu, seperti PSEN1, sehingga diklasifikasikan sebagai alzheimer familial (keturunan). Namun, pasien ini tidak memiliki mutasi gen maupun riwayat keluarga demensia.

Peneliti dari Capital Medical University, yang mendeskripsikan kasus ini, menyatakan bahwa patogenesis penyakit tersebut 'masih perlu dieksplorasi'. Ia mengungkap kemungkinan adanya faktor genetik yang belum ditemukan, interaksi lingkungan yang unik, atau jalur penyakit yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya.

"Pasien ini merupakan kasus alzheimer termuda yang diketahui tanpa kontribusi genetik yang jelas," kata para peneliti.

"Meski usia onset pasien sangat dini, ia memenuhi kriteria diagnostik untuk demensia Alzheimer probable, sesuai dengan kriteria National Institute on Aging-Alzheimer's Association," sambung mereka.

Alzheimer umumnya merupakan penyakit usia lanjut, tetapi studi terbaru menunjukkan angka kasus pada orang di bawah 50 tahun terus meningkat.

Menurut laporan Blue Cross Blue Shield, diagnosis di kalangan orang dewasa berusia 30-64 tahun yang memiliki asuransi komersial melonjak 200 persen antara tahun 2013 dan 2017. Usia rata-rata pengidap adalah 49 tahun, dan kondisi ini lebih banyak menyerang perempuan, yang mencakup 58 persen kasus.

Lonjakan tajam diagnosis demensia onset dini ini kemungkinan besar mencerminkan deteksi yang lebih baik, bukan ledakan kasus yang sebenarnya. Secara historis, gejala kognitif pada orang dewasa muda sering disalahartikan sebagai stres atau kelelahan kerja, sehingga banyak kasus tidak terdiagnosis.

Faktor gaya hidup modern seperti pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, tingginya waktu layar, dan obesitas kini tengah diteliti sebagai faktor yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan risiko demensia, terutama pada usia muda.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pasien Alzheimer Termuda Umur 19, Ilmuwan China Bingung Cari Penyebabnya"