Hagia Sophia

16 January 2026

Fosil Manusia Berusia 773 Ribu Tahun Ditemukan di Maroko

Grotte a Hominides. Foto: Hamza Mehimdate, Programme Préhistoire de Casablanca

Serangkaian fosil manusia berusia 773.000 tahun yang ditemukan di Maroko diduga menjadi nenek moyang Homo sapiens. Ditemukan di sebuah situs dekat Casablanca, spesimen prasejarah ini dapat membantu mengisi salah satu celah paling signifikan dalam silsilah keluarga manusia, dengan memberikan nenek moyang Afrika di awal garis keturunan manusia modern.

Dari data genetik, diketahui bahwa Homo sapiens, Neanderthal, dan Denisovan semuanya berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar 765.000 hingga 550.000 tahun yang lalu. Namun, para ilmuwan belum dapat menemukannya.

Sebelumnya, kandidat terbaik berasal dari gua Gran Dolina di Spanyol, yang dihuni sekitar 800.000 tahun yang lalu oleh spesies yang memiliki perpaduan fitur yang menarik yang mengingatkan pada manusia modern, Neanderthal, dan manusia purba seperti Homo erectus. Dikenal sebagai Homo antecessor, hominin purba ini telah diakui oleh beberapa ahli sebagai nenek moyang bersama Homo sapiens, Neanderthal, dan Denisovan, yang menyiratkan bahwa perpecahan terjadi di suatu tempat di Eurasia, bukan di Afrika.

Akan tetapi, masalah dengan teori ini adalah bahwa semua fosil Homo sapiens dari sebelum sekitar 90.000 tahun yang lalu berasal dari Afrika, dimulai dengan manusia modern paling awal yang diketahui dari Jebel Irhoud di Maroko sekitar 315.000 tahun yang lalu. Sayangnya, hingga sekarang para arkeolog belum pernah melihat sesuatu seperti Homo antecessor di Afrika.

"Afrika cukup kaya akan fosil hominin sebelum satu juta tahun yang lalu, tetapi antara satu juta dan 600.000 tahun yang lalu hampir tidak ada apa pun," kata Profesor Jean-Jacques Hublin dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology.

"Itu lebih merupakan ketiadaan bukti daripada bukti ketiadaan, karena kita belum menemukan fosil apa pun di Afrika, tetapi sekarang tidak ada lagi ketiadaan," sambungnya kepada IFLScience, Senin (12/1/2026).

Di situs bernama Grotte à Hominidés di Maroko, Hublin dan rekan-rekannya menemukan sepasang tulang rahang parsial, serta banyak gigi dan tulang belakang. Semuanya menggabungkan ciri-ciri kuno yang terlihat pada Homo erectus dengan ciri-ciri yang lebih maju yang mengingatkan pada manusia modern dan Neanderthal. Tetapi, yang penting, hominin ini berbeda secara morfologis dari Homo antecessor, menunjukkan bahwa ia berada di puncak garis keturunan manusia yang terpisah namun terkait.

"Apa yang kita miliki adalah kandidat yang sangat baik untuk nenek moyang dari spesies kita sendiri di Afrika," ungkap Hublin. Dengan kata lain, semakin terlihat bahwa Homo antecessor mungkin telah melahirkan Neanderthal di Eropa sementara Homo sapiens berasal dari hominin Afrika yang baru ditemukan ini.

"Apa pun yang terjadi pada keturunan orang-orang ini, mereka memberi kita gambaran tentang apa yang mungkin menjadi bentuk leluhur spesies kita sendiri lebih dari 400.000 tahun kemudian," ujar Hublin.

Usia fosil-fosil ini juga sangat signifikan, karena menempatkan kelompok hominin kuno ini dalam rentang waktu kronologis yang sama dengan Homo antecessor. Di waktu yang sama, ini menunjukkan bahwa mereka hidup sekitar waktu garis keturunan kita terpisah dari nenek moyang kita bersama dengan Neanderthal dan Denisovan.

Sementara hominin Maroko baru ini memperkuat argumen tentang asal usul Afrika untuk Homo sapiens, Hublin enggan untuk menyebut fosil tersebut sebagai spesies baru. Sebaliknya, ia menyarankan bahwa fosil tersebut mungkin mewakili iterasi akhir dari Homo erectus, yang sedang dalam perjalanan untuk berevolusi menjadi sesuatu yang sekarang kita sebut manusia. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature.


























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Nenek Moyang Manusia Ditemukan di Afrika, Kandidat Terkuat"