![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/Dreamer Company |
Seorang pria membagikan pengalamannya mencoba diet One Meal A Day (OMAD). Itu merupakan metode satu kali makan sehari yang hasilnya mungkin mengejutkan banyak orang.
Diet OMAD merupakan salah satu bentuk intermittent fasting yang bertujuan memaksa tubuh membakar lemak. Pelaku diet ini mengonsumsi seluruh kebutuhan kalori harian dalam satu kali makan utama, biasanya dalam jendela waktu sekitar satu jam.
Setelah itu, tubuh akan berpuasa selama sisa 24 jam. Meski begitu, air putih dan minuman tanpa kalori, seperti kopi hitam atau teh, tetap diperbolehkan untuk menjaga hidrasi.
Seorang pegiat kebugaran Will Tennyson mencoba menjalani diet OMAD selama satu minggu, dan mendokumentasikannya pengalamannya di kanal YouTube miliknya. Ia mengaku tidak memiliki target kebugaran tertentu, tetapi merasa penasaran apakah berat badannya akan naik atau turun.
Selain itu, ia ingin melihat seberapa banyak 'kalori' yang bisa dikonsumsi dalam satu kali makan.
Proses Diet OMAD
Tennyson memulai diet tersebut dengan mengonsumsi semangkuk besar Chipotle, lalu berolahraga. Ia menyebut sejauh ini, OMAD belum terlalu mempengaruhi rutinitas latihannya karena ia biasanya berolahraga dalam keadaan puasa.
Namun, perbedaan mulai terasa pada jeda antara olahraga dan waktu makan yang menjadi sangat lama. Ia mengaku benar-benar kelelahan di sela latihan pukul 11.00 siang dan 17.45 sore, hingga akhirnya harus meninggalkan kelas secara total.
Biasanya, Tennyson 'buka puasa' sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Setelah itu, pikirannya terus tertuju pada makanan.
Ia baru makan sekitar pukul 18.00 dan merasa dorongan untuk makan berlebihan.
Efek yang Muncul Hari ke Hari
Memasuki hari keempat, Tennyson mengaku kondisi tersebut terasa semakin sulit. Ia terus memikirkan makanan, yang membuat konsumsinya kafein meningkat karena ia sering berjalan-jalan sambil minum kopi setiap kali merasa lapar.
Tennyson menyadari sulitnya diet ini secara sosial karena tidak bisa makan bersama teman-temannya.
Baru sampai hari kelima, Tennyson mulai terasa lebih mudah. Ia mengaku mulai bisa membedakan antara rasa lapar yang sebenarnya dan rasa lapar yang sudah menjadi kebiasaan.
Bahkan, yang ia kira sebagian rasa lapar sering kali ternyata hanya rasa haus, sehingga cukup diatasi dengan minum air putih atau kopi.
Di akhir percobaan, Tennyson tercatat kehilangan sekitar 1,7 kg berat badannya. Meski demikian, ia menyebut pengalaman menjalani OMAD sebagai sesuatu yang 'sangat sulit'.
"Secara keseluruhan, itu tidak begitu bagus. Itu terlalu ekstrem, dan saya merasa itu tidak terlalu berkelanjutan bagi saya," kata Tennyson, dikutip dari Unilad.
"Mungkin juga tidak bagi banyak orang," sambungnya.
Menyoal Efek Diet OMAD pada Tubuh
Dikutip dari WebMD, saat karbohidrat dikonsumsi, tubuh akan mengubahnya menjadi gula yang masuk ke aliran darah. Kelebihan gula memicu pelepasan insulin, hormon yang membantu memindahkan gula ke dalam sel lemak untuk disimpan.
Selama puasa, kadar insulin menurun. Dengan insulin yang lebih sedikit, tubuh mengubah cara mendapatkan energi, mendorong sel lemak melepaskan cadangan energi untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Perubahan metabolisme ini umumnya baru terjadi setelah puasa cukup lama hingga kadar insulin turun signifikan.
Sejumlah penelitian menunjukkan OMAD dapat memberikan efek positif bagi orang yang ingin menurunkan berat badan. Tinjauan studi tahun 2018 menemukan puasa intermiten, termasuk pola ekstrem seperti OMAD, berpotensi menyebabkan penurunan berat badan.
Beberapa penelitian juga menyebutkan kemungkinan peningkatan metabolisme, meski para ahli menilai masih dibutuhkan riset lanjutan.
Keuntungan lain yang sering disebut adalah rasa lebih waspada serta potensi penurunan berat badan jika makan dilakukan di pagi hari dan diikuti puasa semalaman.
Kekurangan dari Diet OMAD
Namun, diet ini juga memiliki banyak kekurangan. OMAD menuntut disiplin tinggi dan sulit dipertahankan. Sejauh ini, tidak ada bukti konklusif bahwa makan satu kali sehari efektif untuk pengendalian berat badan.
Pola ini justru bisa meningkatkan rasa lapar dan belum tentu lebih efektif dibanding sekadar mengurangi kalori.
Sebuah studi tahun 2022 yang dipublikasikan di National Library of Medicine bahkan menemukan bahwa makan satu kali sehari dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi, baik dari semua penyebab maupun akibat penyakit kardiovaskular. Ada pula kekhawatiran bahwa pola makan ini dapat meningkatkan tekanan darah, kolesterol, serta memicu lonjakan gula darah.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pria Ini Coba Diet Cuma Makan 1 Kali Sehari Selama Seminggu, Begini Efeknya"
