Hagia Sophia

16 January 2026

Risiko Kesehatan Penggunaan Kantong Plastik untuk Wadah Makanan

Menu MBG diwadahi kantong plastik. Foto: Tangkapan layar viral

Sebuah video dari Pandeglang mengenai Makanan Bergizi Gratis (MBG) menyebar cepat di media sosial. Terlihat paket MBG untuk ibu hamil balita yang berisi nasi atau bubur putih dan lauk berada di dalam kantong plastik dan tampak jadi tidak layak.

Berbagai reaksi muncul serentak menanggapi hal tersebut. Banyak yang kaget, kecewa, ada juga yang langsung bertanya apakah makanan seperti ini aman untuk dikonsumsi balita dan ibu hamil?

Peraturan dan Standar Keamanan untuk Wadah Makanan

Di Indonesia, BPOM memiliki regulasi yang mengatur bahan yang boleh dipakai sebagai kemasan makanan. Regulasi ini mencakup plastik, kertas, kaca, logam dan bahan lain yang dinilai aman setelah diuji lewat standar migrasi zat kimia daripada kemasan ke makanan. Produk yang diperkenalkan sebagai wadah makanan harus terdaftar atau menggunakan bahan yang sudah ditetapkan aman berdasarkan uji laboratorium.

Wadah atau kemasan food grade menggunakan bahan yang memang dirancang untuk bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman. Bahan dalam kategori ini tidak bereaksi secara kimia dengan isi di dalamnya, tidak mengubah rasa, aroma, atau warna, serta tidak melepaskan zat berbahaya ke produk yang akan dikonsumsi.

Kantong plastik tipis yang biasa dipakai untuk belanja di pasar atau warung umumnya tidak masuk dalam kategori wadah food grade. Plastik jenis ini dibuat untuk membawa barang dalam waktu singkat, bukan untuk menyimpan atau menampung makanan panas, berminyak, atau lembap yang akan langsung dikonsumsi.

Di sinilah persoalan MBG yang dibungkus kantong plastik menjadi relevan secara kesehatan. Makanan yang dimaksudkan untuk mendukung tumbuh kembang anak dan menjaga kesehatan ibu hamil justru bersentuhan langsung dengan bahan yang tidak dirancang untuk itu. Kontak seperti ini membuka peluang terjadinya migrasi zat kimia dari plastik ke makanan, terutama ketika makanan masih hangat.

Risiko Kesehatan Penggunaan Kantong Plastik untuk Wadah Makanan

Plastik yang biasa dipakai untuk membungkus belanjaan atau makanan di warung dibuat dari polimer berbasis minyak bumi. Bahan yang paling sering dipakai adalah polyethylene dan polypropylene. Plastik menjadi lentur dan tidak mudah sobek dengan menambahkan zat tambahan seperti plasticizer dan stabilizer. Salah satu kelompok zat yang paling banyak diteliti adalah phthalates.

Phthalates tidak terikat kuat pada struktur plastik ketika plastik bersentuhan dengan makanan, terutama yang hangat atau berminyak, sebagian zat ini bisa berpindah ke dalam makanan. Proses ini dikenal sebagai migrasi kimia. Penelitian yang dipublikasikan di Reviews on Environmental Health tahun 2025 menyatakan bahwa makanan yang dikemas dalam plastik sering mengandung kadar phthalates lebih tinggi dibanding makanan yang tidak bersentuhan dengan plastik, terutama pada produk yang mengandung lemak dan disajikan dalam kondisi hangat.

Hal ini penting karena nasi dan lauk dalam program seperti MBG biasanya dikonsumsi dalam keadaan masih panas atau setidaknya hangat. Kondisi ini mempercepat pelepasan zat kimia dari plastik ke dalam makanan, meski perubahan itu tidak bisa dilihat atau dicium.

Bagi Ibu Hamil

Tubuh ibu hamil menjalankan fungsi yang sangat kompleks. Makanan yang masuk ke tubuh ibu tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga menjadi satu-satunya sumber nutrisi bagi janin yang sedang berkembang.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap senyawa tertentu yang berasal dari plastik seperti phthalates dan bisphenols dapat memengaruhi sistem hormon karena keduanya termasuk dalam golongan endocrine disruptors, yaitu zat yang bisa meniru atau mengganggu kerja hormon dalam tubuh. Hormon adalah pengatur utama perkembangan organ, pertumbuhan saraf, dan regulasi metabolik pada janin.

Dampak ini tidak selalu tampak dalam jangka pendek. Paparan yang terus menerus dalam periode sensitif seperti trimester pertama dan kedua kehamilan dapat menimbulkan efek kumulatif yang baru terlihat beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Efek ini bisa muncul dalam bentuk perubahan respons imun, perkembangan kognitif yang tidak sesuai dengan usia, atau kecenderungan terhadap gangguan metabolik di kemudian hari.

Penting dipahami bahwa satu kali paparan tidak serta merta membuat janin langsung mengalami masalah serius. Tubuh memiliki mekanisme perlindungan dan detoksifikasi sendiri. Namun pada ibu hamil, mekanisme ini bekerja sambil menopang dua kehidupan sekaligus. Paparan berulang dari senyawa yang bermigrasi dari kemasan makanan yang tidak aman dapat menambah beban kerja tubuh dan meningkatkan risiko jangka panjang, terutama ketika zat tersebut masuk tanpa disadari setiap hari.

Dalam konteks MBG, hal ini menjadi relevan karena makanan yang dimaksudkan untuk meningkatkan nutrisi ibu dan janin justru terpapar langsung dengan kemasan yang tidak dirancang sebagai kemasan makanan yang aman atau food grade. Pada periode seribu hari pertama kehidupan, sejak konsepsi hingga dua tahun pertama, tubuh anak sangat peka terhadap lingkungan termasuk nutrisi dan paparan zat kimia.

Janin yang berkembang di dalam rahim berada pada fase pembentukan organ dan sistem saraf sehingga paparan zat yang mempengaruhi hormon memiliki peluang lebih besar memberi efek jangka panjang dibandingkan pada orang dewasa yang sudah matang secara fisiologis.

Bagi Balita

Balita hidup dalam fase ketika tubuhnya sedang membangun hampir semua sistem penting secara bersamaan. Hati dan ginjal yang berfungsi menyaring racun belum bekerja seefisien pada orang dewasa. Ketika zat asing masuk, tubuh anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses dan membuangnya. Di saat yang sama, ukuran tubuh yang lebih kecil membuat paparan zat kimia dalam jumlah yang sama menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi di dalam jaringan tubuh.

Penelitian dalam jurnal National Institute of Health tahun 2012 menunjukkan bahwa paparan bahan kimia pengganggu hormon pada usia dini berkaitan dengan perubahan pada regulasi nafsu makan, fungsi metabolik, dan perkembangan sistem imun. Paparan seperti ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan dan perubahan pola pertumbuhan.

Pada masa awal kehidupan, otak, sistem hormonal, dan sistem kekebalan sedang berada dalam fase pembentukan yang sangat cepat. Zat yang mengganggu keseimbangan ini dapat memengaruhi jalur perkembangan yang seharusnya terjadi secara alami. Inilah sebabnya standar keamanan pangan untuk anak selalu lebih ketat dibandingkan untuk orang dewasa.

Risiko Higiene

Di luar persoalan zat kimia, kantong plastik sekali pakai juga memiliki keterbatasan dari sisi kebersihan. Plastik jenis ini diproduksi, disimpan, dan didistribusikan dalam kondisi terbuka sehingga permukaannya mudah terpapar debu, mikroba, dan residu dari proses pabrik. Berbeda dengan wadah makanan yang dirancang untuk higiene, kantong plastik tidak melewati proses sanitasi khusus sebelum digunakan.

Ketika makanan yang seharusnya bergizi bersentuhan langsung dengan permukaan seperti ini, risiko kontaminasi menjadi meningkat. Mikroorganisme yang menempel dapat berpindah ke makanan dan berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan atau infeksi, terutama pada balita dan ibu hamil yang daya tahannya sedang lebih sensitif.

Dalam konteks program MBG, faktor higiene menjadi sama pentingnya dengan kandungan nutrisi. Makanan yang baik untuk tubuh bisa kehilangan manfaatnya jika cara penyajiannya membuka pintu masuk bagi bakteri dan kontaminan yang tidak terlihat ke dalam tubuh.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Viral MBG Bumil-Balita Ditaruh Kantong Plastik, Kenali Risiko Wadah Tidak Food Grade"