Hagia Sophia

20 December 2022

COVID-19 Melanda Hampir Semua Wilayah di China, Warga Ini Malah Tidak Mau Divaksin

Vaksinasi COVID-19 China Foto: BBC World

Seorang wanita asal China mengetahui bahwa virus COVID-19 telah melanda sebagian besar negara China dan akan segera melanda kota tempat tinggalnya, Shenzhen. Namun, wanita yang bernama Candice (28) enggan divaksin lantaran takut dengan efek sampingnya.

Dikutip dari Channel News Asia, wanita yang bekerja sebagai HRD sempat mendapatkan dua dosis vaksin Sinovac pada tahun lalu dengan harapan lebih mudah bepergian (traveling). Seiring berjalannya waktu, Candice semakin skeptis karena cerita teman-temannya dan unggahan media sosial terkait dampak kesehatan usai divaksin.

"Saya tidak mempercayainya (vaksin)," ujar Candice.

Candice merupakan anggota kelompok yang meragukan vaksin. Kelompok tersebut menjadi 'PR' bagi Beijing untuk membujuk warganya divaksin setelah lonjakan kasus akibat keputusan 'Zero-COVID' diberlakukan.

Pemerintah secara resmi mencatat tingkat vaksinasi di negara tersebut sebesar 90 persen. Namun, tingkat vaksinasi booster atau dosis ketiga pada orang dewasa turun 57,9 persen dan 42,3 persen bagi warga yang berusia 80 tahun keatas.

Pemerintah telah mewanti-wanti bahwa akan ada lebih dari 1,5 juta kematian di Negara Tirai Bambu pasca pelonggaran aturan COVID-19. Peringatan tersebut didukung dengan data vaksinasi yang terus menurun.

Sebuah artikel yang diterbitkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China pada bulan September mencatat buruknya cakupan vaksinasi lansia. Hal ini juga dipengaruhi oleh tidak adanya dokter lokal dalam penggerak vaksin, pemahaman medis yang buruk, dan kurangnya asuransi.

"Ini kasus yang sangat spesial di China karena orang merasa aman dalam waktu yang lama," kata asisten profesor Hong Kong Baptist University Stephanie Jean-Tsang.

"Orang-orang perlu menyadari apa risikonya dan seberapa bermanfaat vaksin itu, butuh waktu bagi warga Hong Kong dan orang tua untuk menyadari hal ini juga," lanjutnya.

Pihak berwenang belum mewajibkan vaksinasi di tengah tanda-tanda bahwa masyarakat akan menentang langkah tersebut. Tetapi pada minggu lalu, pemerintah setempat telah menawarkan vaksin booster kedua atau dosis keempat bagi para lansia.

China tidak menyediakan vaksin buatan luar negeri. Saat ini China hanya mengandalkan Sinopharm, Coronavac (buatan Sinovac), dan opsi lainnya. China juga belum merilis vaksin mRNA buatannya.

Meragukan Kualitas Vaksin Lokal

Dokter asal Shenzhen, China Selatan, Kelly Lei menuturkan para anggota komunitas medis di China tidak meragukan keamanan vaksin tersebut. Namun, mereka mempertanyakan kemanjuran vaksin tersebut dibandingkan mRNA buatan luar negeri.

Pada akhir November, media sosial Weibo diramaikan dengan tagar 'Pemalsuan Vaksin Sinovac'. Tagar yang melonjak hingga lima juta tampilan, menunjukkan benjolan dan kerontokan rambut yang diduga disebabkan oleh vaksin buatan lokal.

"Setidaknya setengah dari dokter dan orang terpelajar ingin mendapatkanmRNA dan menolak untuk mendapatkan yang China," kata Lei.

Menurut Lei, banyak rekan sesama dokter yang menganggap vaksin China tidak berguna. Beberapa dari mereka juga pergi ke Makau untuk divaksin mRNA.

Permintaan vaksinasi di Makau melonjak dalam beberapa minggu terakhir. Pesanan vaksinasi sudah 'full-booked' hingga 21 Januari mendatang.

Namun, setelah aturan 'Zero-COVID' diberlakukan, kasus semakin meningkat sehingga warga takut untuk bepergian. Akibatnya, para warga China yang sudah memesan vaksin di Macau terpaksa memilih vaksin buatan China.

"Di Guangzhou, segalanya mulai menjadi liar. Mereka (warga China) setidaknya menginginkan sesuatu untuk perlindungan," kata Lei.






















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus COVID-19 di China Meledak, Warga Malah Ogah Divaksin"