Hagia Sophia

01 April 2023

Virus Marburg Sangat Menular dan Mematikan, Efek Perubahan Iklim?

2 Negara di Afrika Dihantam Wabah Virus Marburg, Efek Perubahan Iklim? (Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25)

Negara kedua di Afrika belum lama ini melaporkan mewabahnya infeksi virus Marburg. Virus Marburg sangat menular dan memiliki angka kematian yang begitu tinggi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) keberadaan virus Marburg berpotensi untuk menjadi endemi. Hal ini menjadi tanda urgensi pada upaya keberlanjutan untuk mengembangkan vaksin dan obat virus Marburg.

Muncul kekhawatiran di antara pihak ahli kesehatan masyarakat bahwa perubahan iklim yang terjadi di bumi menjadi salah satu pemicu kemunculan wabah virus Marburg.

Kemunculan virus Marburg pada tahun ini pertama kali dilaporkan oleh Guinea Khatulistiwa pada bulan Februari. WHO khawatir angka kasus yang ditemukan di Guinea Khatulistiwa lebih rendah daripada jumlah kasus sebenarnya.

Guinea Khatulistiwa sudah mengkonfirmasi 13 kasus semenjak awal kemunculan. Karena ada kecurigaan perbedaan data, WHO meminta pemerintah Guinea Khatulistiwa untuk transparan.

Guinea Khatulistiwa juga melaporkan 20 kemungkinan kasus infeksi virus Marburg dan semua pasien telah meninggal.

Tak hanya Guinea Khatulistiwa, negara Tanzania juga sudah melaporkan temuan kasus virus Marburg berjumlah 8 pasien. Diketahui 5 di antaranya meninggal dunia.

Marburg adalah virus demam berdarah yang dapat menyebabkan matinya fungsi organ tubuh. Gejala bervariasi tetapi biasanya dimulai dengan sakit kepala dan demam.

Virus Marburg ini dipercayai berawal dari kelelawar buah yang sering ditemukan di gua-gua. Kelelawar biasanya dapat langsung menulari manusia, atau monyet dan babi dapat tertular kelelawar kemudian hewan tersebut menulari manusia.

Marburg menyebar melalui kontak langsung melalui kulit yang rusak atau selaput lendir dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi, dan melalui bahan seperti seprai yang terkontaminasi dengan cairan yang terinfeksi.

Profesor emeritus penyakit menular Universitas Alabama mengatakan bahwa diagnosis infeksi Marburg sulit dilakukan. Ada banyak negara miskin di Afrika tidak memiliki laboratorium untuk menguji sampel penyakit.

Ketika petugas kesehatan di Guinea Khatulistiwa mencurigai Marburg pada 7 Februari, sampel virus harus dikirim ke Senegal yang jaraknya 2.000 mil (3.219 km) jauhnya, dan baru dikonfirmasi seminggu kemudian.

Ahli yakin bahwa perubahan iklim yang terjadi di dunia menjadi salah satu faktor kemunculan virus Marburg.

"Kekhawatiran saat ini adalah bahwa perubahan iklim yang menyebabkan suhu rata-rata baru (lebih tinggi). Hal ini dapat menyebabkan hewan inang untuk virus Marburg (dan lainnya) berpindah ke area dunia yang belum pernah mereka alami sebelumnya dan menciptakan wabah yang belum pernah mereka alami sebelumnya," ucap ahli epidemiologi GAVI Dr Lee Hampton dikutip dari KLCC, Sabtu (4/3/2023).

Selain itu, pihak WHO pun mengungkapkan hal yang serupa. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa kesehatan hewan dan planet sangat mempengaruhi kesehatan manusia.

"Wabah penyakit virus Marburg adalah pengingat lain bahwa kita hanya dapat benar-benar melindungi kesehatan manusia jika kita juga melindungi kesehatan hewan dan planet kita, yang menopang semua kehidupan," pungkasnya.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "2 Negara di Afrika Dihantam Wabah Virus Marburg, Efek Perubahan Iklim?"