![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/Naeblys |
Varian baru virus COVID-19 BA.3.2 atau dijuluki 'Cicada' kini terdeteksi di puluhan negara di dunia. Lalu, apakah varian ini sudah 'mampir' ke Indonesia?
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengatakan sampai akhir Maret 2026, varian COVID-19 'Cicada' belum ditemukan di Indonesia.
"Sampai saat ini akhir Maret 2026, belum ditemukan varian tersebut di Indonesia," tegas Aji saat dihubungi detikcom, Rabu (1/4/2026).
"Varian dominan di Indonesia adalah XFG (57%), LF.7 (29%), XFG 3.4.3 (14%) dengan risiko rendah," sambungnya.
XFG menjadi variant nomor 1 dalam hal spread atau penyebaran, per 13 Juni sudah terdeteksi di 130 negara (paling banyak dari Eropa dan Asia) per Juni 2025.
Dominansi turunan dari LF.7.9 terjadi secara global di 41 negara utamanya regional Amerika dan Asia. Subvarian LF.7.9.1 dan LP.7, secara umum memiliki karakteristik yang sama dengan JN.1
Varian dominan COVID-19 yang ada di Indonesia saat ini termasuk dalam kategori varian dengan risiko rendah, sehingga tidak perlu panik, namun tetap penting menjaga protokol kesehatan
"Masyarakat biasakan terapkan saja perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS): rajin cuci tangan pakai air mengalir dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, pakai masker jika sakit/di keramaian, dan lainnya," kata Aji.
Gejala COVID-19 'Cicada'
Sejauh ini, gejala infeksi BA.3.2 tidak berbeda dari varian Omicron sebelumnya, seperti:
- Sakit tenggorokan
- Demam dan menggigil
- Kelelahan
- Batuk
- Nyeri tubuh
- Hidung tersumbat
Beberapa pasien juga melaporkan sakit kepala, mual ringan, hingga sesak napas dalam kasus tertentu.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gaduh Varian Baru COVID-19 'Cicada', Sudah Masuk RI? Kemenkes Buka Data"
