Hagia Sophia

15 October 2022

Anak Meninggal Akibat Gagal Ginjal Akut di Gambia Naik Jadi 70 Kasus

Ilustrasi sirup obat batuk. (Foto: Getty Images/iStockphoto/spukkato)

Gambia, Afrika Barat, belakangan disorot lantaran melaporkan puluhan anak meninggal akibat gagal ginjal akut. Investigasi terkait penyebab meninggalnya sejauh ini, mengarah pada empat obat batuk buatan India.

Total anak yang meninggal akibat gagal ginjal akut meningkat, kini menjadi 70 orang usai sebelumnya tercatat 69 kasus. Presiden Adama Barrow menyatakan situasi di negaranya krisis dan akan segera diadakan pertemuan untuk membahas lebih lanjut temuan gagal ginjal pada anak.

"Presiden Adama Barrow memberikan pembaruan pada pertemuan kabinet darurat yang dia adakan pada hari Kamis untuk membahas krisis," menurut pernyataan kepresidenan, dikutip dari Reuters.

Seperti diketahui, sirup obat batuk merupakan produksi Maiden Pharmaceuticals Ltd yang berbasis di New Delhi, India. Sejak ditemukan kasus gagal ginjal, salah satu pabriknya ditutup di India utara sembari otoritas kesehatan setempat melakukan penyelidikan.

"Gambia juga sedang menyelidiki kematian dan minggu ini membentuk komisi penyelidikan baru untuk menangani mereka," kata pernyataan itu.

Analisis laboratorium Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengungkap temuan dietilen glikol dan etilen glikol yang 'tidak dapat diterima' dalam obat batuk tersebut, yang menyebabkan gagal ginjal akut.

Dietilen glikol merupakan senyawa organik berbentuk cairan bening, tidak berwarna, tidak berbau namun memiliki rasa manis. Dietilen glikol adalah bahan pelarut yang banyak digunakan dalam minyak rem, pelumas, produk perawatan pribadi seperti lotion dan deodoran.

Dikutip dari Science Direct, senyawa ini dengan cepat diserap dan didistribusikan ke ginjal, otak, hati, limpa, dan jaringan adiposa. Namun penggunaan dietilen glikol ini dikaitkan dengan masalah kesehatan.





















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Anak Meninggal Gagal Ginjal Akut gegara Obat Batuk Naik Jadi 70 Kasus"