Hagia Sophia

29 May 2023

Gelombang Panas Masih Sering Melanda Kawasan Asia

Gelombang panas terjadi di beberapa negara Asia Tenggara dan Selatan. (Foto: AP/Rajesh Kumar Singh)

Cuaca panas beberapa waktu terakhir menjadi masalah yang tengah dihadapi oleh negara-negara di Asia. PBB bahkan memberi peringatan soal lonjakan panas yang terjadi di Asia Selatan dan Tenggara. Mereka mengatakan bahwa suhu global akan mencapai rekor terpanasnya dalam waktu 5 tahun ke depan.

Beberapa negara yang sudah mencetak rekor suhu terpanasnya antara lain China, Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, Bangladesh, Pakistan, dan India.

Ahli mengatakan walaupun cuaca panas umum terjadi pada beberapa daerah tersebut, namun selama delapan pekan terakhir suhu memang sangat tinggi. Ilmuwan menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Suhu Lebih Panas dari Perkiraan

Ilmuwan sesungguhnya sudah memperkirakan bahwa beberapa waktu ini akan menjadi periode terpanas di Asia. Namun, perubahan iklim justru membuat kondisi lebih buruk.

"Tahun ini menjadi salah satu waktu yang sudah diperkirakan akan terjadi panas. Namun sayangnya dengan perubahan iklim, apa yang sudah kami perkiraan cukup panas ternyata berubah menjadi lebih panas lagi," ucap ilmuwan iklim CSIRO Nandini Ramesh dikutip dari ABC, Minggu (28/5/2023).

"Jadi gelombang panas semacam ini diperkirakan akan terjadi lebih sering karena adanya perubahan iklim. Saya pikir orang-orang sadar bahwa kondisi ini benar-benar tidak baik," sambungnya.

Adapun terkait gelombang panas yang tengah terjadi beberapa waktu ini, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menemukan ada 98 persen kemungkinan bahwa salah satu dari lima tahun ke depan akan menjadi tahun terpanas yang pernah terjadi.

Musim Hujan Terlambat

Wilayah India dan Pakistan menjadi beberapa daerah dengan dampak paling parah karena gelombang panas tersebut. Suhu di beberapa wilayah Pakistan bahkan sudah menyentuh angka 50 derajat Celcius.

Ini merupakan tahun kedua secara berturut-turut gelombang panas terjadi. Panas ekstrem yang terjadi di India dan Pakistan tahun lalu menjadi bulan Maret terpanas dalam waktu lebih dari satu abad terakhir. Kejadian tersebut bahkan menewaskan 90 orang.

Ahli menjelaskan bahwa perkembangan El Nino dapat memperburuk gelombang panas yang terjadi. El Nino berkaitan erat dengan keterlambatan awal musim hujan yang umumnya terjadi pada bulan Juni.

Ilmuwan memperkirakan musim hujan akan terlambat selama empat hari. Keterlambatan tersebut dapat memberikan konsekuensi yang signifikan.

"Jika kemajuan monsun lambat, panas mungkin menguasai bagian barat laut India dan mungkin memiliki konsekuensi besar," kata ahli klimatologi dari Institut Meteorologi Tropis India Dr Jasti Chowdary.

Meningkatnya Suhu Air Laut

Walaupun dapat memperparah kondisi gelombang panas, El Nino bukanlah faktor yang berperan pada kondisi panas saat ini. Perubahan iklim dan air lautan yang hangat itu telah mendorong suhu panas tak biasa di beberapa wilayah sekitar.

"Asia Tenggara sangat erat kaitannya dengan suhu Pasifik Barat juga. Tahun ini karena terjadi La Nina yang berkepanjangan, menyebabkan Samudera Hindia dan Pasifik Barat menjadi lebih hangat dan pemanasan masih terus berlangsung," kata Dr Chowdary.

"Ketika pemanasan yang kuat ditambah sistem tekanan tinggi terjadi, hal tersebut mungkin akan mempengaruhi kondisi panas wilayah itu," pungkasnya.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gelombang Panas Mematikan Asia Bakal Lebih Sering Terjadi, Ini Biang Keroknya!"