Hagia Sophia

20 May 2023

Ini Alasan Banyak Negara di Asia Ingin Meningkatkan Angka Kelahiran

Krisis populasi. (Foto ilustrasi: Bloomberg via Getty Images/Bloomberg)

Beberapa negara di Asia tengah mengalami krisis populasi karena penurunan angka kelahiran yang signifikan. Negara-negara tersebut beberapa di antaranya adalah China, Jepang, dan Korea Selatan.

Sebagai contoh negara China mengalami penurunan populasi untuk pertama kalinya dalam waktu 60 tahun. Posisi China sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia bahkan digeser oleh India.

Selain itu, Korea Selatan juga menjadi salah satu negara dengan angka kelahiran terendah di dunia yaitu 0,78 kelahiran per wanita. Pemerintah Korea Selatan rela mengeluarkan lebih dari 200 miliar dolar AS (Rp 2,9 kuadriliun) dalam waktu 16 tahun terakhir untuk meningkatkan populasi.

Sementara Jepang, baru saja memecahkan angka kelahiran terendah dalam waktu setahun kurang dari 800 ribu kelahiran pada tahun 2022. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida berjanji akan menaikkan anggaran untuk kebijakan peningkatan jumlah kelahiran.

Secara global, masih ada banyak negara lain yang juga mengalami penurunan jumlah angka kelahiran. Menurut laporan terbaru PBB, jumlah negara yang ingin meningkatkan angka kelahiran meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 1976.

Kenapa Banyak Negara 'Mati-matian' Ingin Meningkatkan Populasi?

Peningkatan jumlah populasi berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Semakin banyak pekerja, semakin banyak produk dihasilkan dan mengarah pada pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, jumlah penduduk yang besar juga berarti jumlah pajak yang diterima oleh pemerintah juga lebih besar.

Banyak negara di Asia yang penduduknya menua dengan cepat. Seperti contohnya Jepang yang 30 persen populasinya kini berusia 65 tahun ke atas. Beberapa negara tetangga dinilai tak lama akan mengikuti jejak Jepang.

Berbeda dengan India yang kini menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, lebih dari seperempat penduduknya berusia antara 10 sampai 20 tahun. Hal ini memberikan potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat besar.

Ketika pertumbuhan populasi usia kerja semakin kecil, maka biaya dan beban yang diperlukan untuk merawat penduduk tidak bekerja akan semakin besar.

"Pertumbuhan populasi yang negatif berdampak pada ekonomi dan dikombinasikan dengan populasi yang menua. Mereka tidak mampu mendukung orang tua," ucap peneliti senior Universitas Victoria Xiujian Peng dikutip dari BBC, Jumat (19/5/2023).




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Krisis Populasi, Ini Alasan Negara Asia Mati-matian Tingkatkan Angka Kelahiran"