Hagia Sophia

15 December 2023

Banyak Keluarga di China Masih Enggan untuk Punya Anak, Krisis Populasi Berlanjut?

Warga China banyak yang ogah punya anak. (Foto: AP/Mark Schiefelbein)

Angka kelahiran di China mencapai puncaknya pada 2016. Setelahnya, selama lima tahun berturut-turut jumlah bayi baru lahir terus menurun bahkan menyusut sekitar 40 persen.

Institut Kebijakan Publik di South China University of Technology menilai China harus berfokus pada kebijakan layanan kesuburan. Penyediaan layanan yang lebih baik bagi calon orang tua, dan pada saat yang sama juga menghormati orang-orang yang enggan untuk memulai sebuah keluarga. Sebab, China kini menghadapi potensi penurunan populasi yang tidak dapat diubah, menurut laporan sebuah lembaga penelitian.

Seruan terhadap solusi demografis terus berlanjut sejak populasi keseluruhan China pertama kalinya mencatat dalam lebih dari enam dekade penurunan populasi, sementara jumlah kelahiran baru juga turun di bawah 10 juta untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Tanpa adanya titik balik yang positif, krisis demografi akan tetap menjadi salah satu tantangan terbesar terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi China.

"Kebijakan kesuburan harus berfokus pada memastikan lingkungan reproduksi bagi kelompok dengan permintaan kesuburan yang tinggi saat ini, dan juga inklusif terhadap kelompok yang memiliki niat kesuburan yang lemah," menurut survei yang diterbitkan minggu lalu oleh Institute of Public Policy di South China University of Technology.

"Statistik harus berhenti terlalu fokus pada fluktuasi tingkat kesuburan atau jumlah kelahiran."

Beijing terus mencari cara untuk meringankan krisis demografinya, dan meluncurkan sejumlah kebijakan pronatalis. Namun, para ahli demografi percaya bahwa masyarakat memerlukan waktu untuk membangun kembali kepercayaan yang hilang selama pandemi ini.

"Perhatian yang lebih besar harus diberikan pada perubahan data yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pengasuhan anak, tidak terbatas pada perubahan skala fasilitas penitipan anak, peningkatan kualitas penitipan sebelum dan sesudah melahirkan, serta peningkatan investasi dalam pelatihan guru prasekolah," kata analisis Institut Kebijakan Publik oleh analis kebijakan Yang Tingxuan.

Tahun lalu, jumlah taman kanak-kanak di China turun untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, sementara jumlah siswa yang terdaftar di taman kanak-kanak dan prasekolah juga menurun, Kementerian Pendidikan mengkonfirmasi pada bulan Juli.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "China Diminta Legowo Terima Keluarga Ogah Punya Bayi, Krisis Populasi Tak Membaik"