Hagia Sophia

10 December 2023

Berbagai Fakta Tentang Varian EG.5, Bikin COVID-19 Naik di Singapura dan Indonesia

Ilustrasi. Foto: Getty Images/loops7

Indonesia kembali mencatat kenaikan kasus COVID-19, bersamaan dengan sejumlah negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia. Disebut-sebut, kenaikan kasus COVID-19 kali ini dipicu oleh varian Eris EG.5. Lantas menurut dokter, bakal sebesar dan secepat apa penyebaran varian Corona ini?

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(K) menjelaskan, kasus COVID-19 di Indonesia memang meningkat hingga dua kali lipat selama Oktober hingga November tahun ini. Seiring itu, Kementerian Kesehatan RI melaporkan kasus COVID-19 di Indonesia naik sebanyak 80 persen dalam periode waktu 28 November hingga 2 Desember 2023.

Varian EG.5 adalah cabang dari Omicron dan turunan dari sublineage XBB. Subvarian yang menyebar cepat, yang dijuluki 'Eris' kini menjadi jenis COVID-19 yang dominan di seluruh dunia. EG.5 adalah turunan dari XBB.1.9.2, dengan mutasi ekstra pada protein spikenya.

"Jika kita melihat urutannya, EG.5 sangat mirip dengan varian XBB lain yang beredar saat ini, dengan beberapa perubahan kecil," terang ahli virologi di Universitas Johns Hopkins, dr Andrew Pekosz, dikutip dari TODAY.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan EG.5 ke dalam daftar varian yang dipantau pada 19 Juli 2023. Namun, varian ini pertama kali terdeteksi pada Februari 2023. Kemudian pada 9 Agustus, WHO mengklasifikasikan EG.5 sebagai 'Variant of Interest'.

Lantas sebenarnya, seperti apa karakteristik varian EG.5? Berikut fakta-fakta seputarnya:

1. Gejalanya Tak Lebih Berat Dibanding Varian Corona Lainnya
Menurut dr Erlina, gejala COVID-19 dengan infeksi varian EG.5 mirip-mirip dengan varian Corona yang merebak sebelumnya. Hanya saja, orang yang terkena varian ini mungkin telah mengalami penurunan titer antibodi lantaran tingkat proteksi vaksin COVID-19 memang menurun dalam waktu beberapa bulan setelah suntikan terakhir.

"Terutama Omicron BA.4 dan BA.5 selain hidung meler, juga nyeri tenggorok. Gejala nyeri otot, nyeri badan, nggak enak badan adalah gejala umum. Hampir sama semua COVID itu terjadi. Jadi gejalanya nggak terlalu berbeda, mirip-mirip saja," terang dr Erlina.

2. Dikhawatirkan Menular Lebih Cepat
Sebenarnya, varian EG.5 sangat mirip dengan varian Omicron yang menyebar sebelumnya. Dengan begitu menurut dokter penyakit menular dan profesor di Yale School of Public Health, dr Albert Ko, varian ini relatif mudah menular.

Bahkan menurutnya, ada kemungkinan EG.5 lebih mudah menular dibandingkan varian XBB lainnya. Meski belum ada alasan yang diketahui pasti di balik dugaan tersebut, WHO memang sempat menyebut EG.5 memiliki sifat pelepasan kekebalan lebih tinggi dibandingkan varian lainnya.

"EG.5 dapat menyebabkan peningkatan kejadian kasus dan menjadi dominan di beberapa negara atau bahkan secara global," kata WHO dalam sebuah laporan.

3. Sudah Ada di Indonesia Sejak Juli
Menurut dr Erlina, ada kemungkinan kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia kali ini bukan hanya disebabkan varian EG.5, melainkan karena antibodi yang menurun pada masyarakat, dibarengi tingginya mobilitas dan interaksi tatap muka.

"EG.5 sudah ditemukan di Indonesia sejak Juli, bahkan angkanya hampir menyentuh 20 persen saat variannya adalah EG.5. Tapi kan gejalanya ringan-ringan saja tidak ada lonjakan kasus, (tidak ada) lonjakan perawatan di rumah sakit," tutur dr Erlina.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Fakta-fakta Varian EG.5, Disebut-sebut Bikin COVID Naik Lagi di RI dan Singapura"