![]() |
| Asisten pelatih Arema FC Kuncoro (kiri) (Foto: Siti Mu'amalah/detikBali) |
Asisten pelatih Arema FC, Kuncoro meninggal dunia saat melakoni laga amal peringatan 100 Tahun Stadion Gajayana Malang, Jawa Timur.
Kuncoro meninggal karena serangan jantung. Sebelumnya, pria berusia 52 tahun tersebut kolaps dan mendapatkan resusitasi jantung paru (RJP) oleh rekan-rekan di lapangan.
Terlepas dari kasus tersebut, apakah serangan jantung yang terjadi saat olahraga memiliki tanda khusus?
Spesialis jantung dr Vito Damay, SpJP(K), FIHA, FICA mengatakan ada beberapa tanda serangan jantung yang bisa muncul saat seseorang berolahraga.
"Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada (tertekan, berat seperti diremas atau terasa panas) banyak orang punya pengalaman berbeda soal tanda di dada yang tidak nyaman ini," kata dr Vito saat dihubungi detikcom, Senin (19/1/2026).
"Sesak napas yang tidak biasa untuk intensitas olahraga tersebut, pusing, mual, keringat dingin atau nyeri dada menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung," sambungnya.
Namun, tanda-tanda tersebut menurut dr Vito tidak selalu terjadi di semua orang.
"Sakit dada atau sesak saat aktivitas tapi membaik saat orang itu diam istirahat. Itu tanda sebaiknya perlu check up khusus untuk jantung bukan general check up biasa untuk orang sehat," katanya.
Pada orang yang terlatih, relatif muda, atau terbiasa menahan keluhan, tanda ini bisa jadi sangat ringan, disalahartikan sebagai kelelahan biasa, atau bahkan tidak dirasakan sama sekali sampai terjadi kolaps mendadak.
Bisa Saja Terlihat Normal
Pada mereka yang mengalami serangan jantung, narasi yang biasa keluar dari masyarakat umumnya 'padahal sebelumnya terlihat normal-normal saja, nggak ada tanda-tanda'.
Menurut dr Vito pada kondisi serangan jantung hal seperti ini memang sangat mungkin dan sering terjadi.
"Penyakit jantung koroner bisa berkembang diam-diam selama bertahun-tahun tanpa gejala. Saat olahraga intens, kebutuhan oksigen jantung meningkat tajam," kata dr Vito.
"Jika ada penyempitan pembuluh darah jantung yang tidak disadari, kondisi ini bisa memicu serangan jantung atau gangguan irama fatal, meskipun sebelumnya orang tersebut tampak sehat dan aktif," sambungnya.
Karena itu, menurut dr Vito tampak 'fit' atau rutin berolahraga sayangnya tidak selalu identik dengan bebas risiko serangan jantung. Terutama bila ada faktor risiko seperti usia lanjut, tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, merokok, atau riwayat keluarga.
"Hal ini dikarenakan banyak orang merasa sehat dan tidak pernah check dia ternyata ada darah tinggi atau dia pernah dulu merokok dan sudah terlanjur ada plak di pembuluh darahnya sebelum dia hidup sehat," katanya.
"Kenyataannya olahraga aman perlu didahului kesadaran akan kondisi jantung, terutama bagi mereka yang berusia di atas 35 hingga 40 tahun atau memiliki faktor risiko," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Asisten Pelatih Arema FC Meninggal, Apa Tanda Serangan Jantung saat Olahraga?"
