Hagia Sophia

20 January 2026

Kisah Anak 4 Tahun Meninggal yang Awalnya Kena Super Flu

Foto: Getty Images/iStockphoto/hut547

Ellie Rudd, bocah 4 tahun meninggal dunia pada 6 Januari pasca terpapar 'superflu'. Flu yang awalnya tampak biasa berubah menjadi mimpi buruk setelah Ellie terkena infeksi ganda dengan adenovirus, yang kemudian berkembang menjadi pneumonia dan sepsis.

"Dia mungkin anak paling sehat di antara semua anak saya. Dia tidak punya masalah medis apa pun," kenang ibunya, Sarah Rudd, dikutip dari CNN.

"Saya tidak tahu kenapa ini bisa menghantamnya sekeras ini."

Flu pertama kali masuk ke rumah mereka di Ogden, Utah, AS, saat Natal. Setelah kedua orang tuanya dan adik bayinya sempat sakit ringan, giliran Ellie, kakak perempuannya Mary Jane, dan adiknya Kyler jatuh sakit pada awal Januari.

Awalnya, Ellie tampak cepat membaik setelah minum obat. Namun keesokan harinya, demamnya kembali tinggi.

Pada 2 Januari, Ellie tertidur di sofa. Tak lama kemudian, Kyler keluar kamar sambil menggandengnya dan menyebut kondisi Ellie tampak memburuk. Batuk Ellie berubah menjadi sangat keras.

Sarah segera membawanya ke rumah sakit. Ellie dinyatakan positif flu dan adenovirus. Kadar oksigennya rendah, sehingga ia harus dirawat dan diberi oksigen serta obat antivirus.

Malam itu, kondisi demam-nya naik-turun. Keesokan harinya, saat sempat dikatakan membaik, kadar oksigennya kembali turun. Ellie kemudian muntah darah. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan ia mengalami pneumonia dan sepsis.

Ellie diterbangkan ke Primary Children's Hospital di Salt Lake City. Di sana, ia dipasang mesin ECMO, alat yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru agar tubuh punya waktu untuk pulih. Namun kondisinya terus memburuk. Dokter menemukan gumpalan darah di jantungnya, ia juga mengalami perdarahan internal.

Dua belas jam setelah diberi obat pengencer darah, Ellie mengalami stroke besar.

"Sisi kiri otaknya sudah tidak menunjukkan aktivitas. Saat itu kami tahu, sudah waktunya untuk melepaskannya," kata Sarah.

Tanda Bahaya pada Anak akibat Flu

Menurut ahli penyakit infeksi anak dari Vanderbilt University dr Buddy Creech, kisah Ellie memang tragis, tetapi sayangnya bukan hal yang asing. Ia sering melihat flu pada anak yang memburuk dengan sangat cepat.

"Anak kecil sering terlihat baik-baik saja sampai tiba-tiba kondisinya jatuh. Semakin muda usianya, perubahan bisa terjadi semakin cepat," ujarnya.

Creech menyebut ada tiga tanda utama yang perlu diperhatikan orang tua, pernapasan, kondisi saraf, dan hidrasi.

"Pertama, perhatikan cara anak bernapas. Jika napasnya sangat cepat, tampak berat, atau sampai menarik otot leher dan tulang rusuk saat bernapas, itu adalah tanda bahaya," sorot dia.

"Kedua, lihat kondisi kesadarannya. Anak yang tampak sangat lemas, tidak tertarik makan, minum, bermain, atau berinteraksi, meski demamnya tidak tinggi, patut diwaspadai," lanjutnya.

Ketiga, perhatikan tanda dehidrasi. Anak yang bernapas terlalu cepat bisa cepat kekurangan cairan, dan kondisi ini sering membuat anak makin muntah dan makin tidak mau minum.

Creech juga mengingatkan, obat penurun panas bisa menjadi 'tes sederhana'. Jika setelah minum parasetamol atau ibuprofen anak tidak tampak lebih segar atau lebih aktif, orang tua sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Pilu Ortu yang Anaknya Meninggal karena 'Super Flu' di Usia 4 Tahun"