![]() |
| Ilustrasi warga AS memakai masker (Foto: AP/Andres Kudacki) |
Kasus flu di seluruh Amerika Serikat berada pada level tinggi, menurut data terbaru yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC).
CDC memperkirakan, sepanjang musim flu ini setidaknya telah terjadi 18 juta kasus, 230 ribu rawat inap, dan 9.300 kematian akibat flu.
"Saat ini, 14 negara bagian tercatat mengalami tingkat penyakit mirip flu pada kategori "sangat tinggi", sementara 19 negara bagian lainnya berada pada kategori 'tinggi'," menurut data CDC, diktuip dari ABC News.
Setidaknya 15 kematian terkait flu dilaporkan di kalangan anak-anak selama pekan yang berakhir pada 10 Januari, sehingga total kematian anak akibat flu musim ini mencapai 32. Musim lalu tercatat rekor 289 anak meninggal akibat flu, angka tertinggi sejak CDC mulai melakukan pelacakan pada tahun 2004.
Menurut CDC, terdapat keterlambatan dalam pelaporan kematian anak-anak dan jumlah kematian kemungkinan besar kurang tercatat.
CDC menyebut, dari data anak-anak yang memenuhi syarat untuk menerima vaksin flu dan status vaksinasinya diketahui, 90 persen kematian anak pada musim flu ini terjadi pada anak yang belum divaksin influenza secara lengkap.
Sekitar 18,6 persen hasil tes menunjukkan positif flu pada pekan yang berakhir 10 Januari, dan angka ini menunjukkan tren menurun, menurut CDC.
Tren penurunan juga terlihat pada proporsi kunjungan ke fasilitas layanan kesehatan akibat penyakit pernapasan, yakni 5,3 persen pada pekan yang sama.
Data menunjukkan, mayoritas kasus flu musim ini berkaitan dengan strain yang disebut subclade K, yaitu varian dari virus H3N2 (subtipe dari influenza A).
Subclade K telah beredar sejak musim panas di sejumlah negara dan menjadi pemicu utama lonjakan kasus flu di Kanada, Jepang, dan Inggris.
Dari 547 sampel H3N2 yang diuji sejak 28 September dan menjalani pemeriksaan lanjutan, lebih dari 90 persen di antaranya merupakan subclade K, berdasarkan data CDC.
"Kalau melihat apa yang kami temukan di sistem kami dan informasi dari layanan kesehatan lokal, ini cukup sejalan dengan apa yang banyak dari kami pahami tentang kondisi di masyarakat saat ini," kata Dr Aaron Milstone, direktur pencegahan infeksi pediatrik di Johns Hopkins Health System, kepada ABC News.
"Kami tahu flu sudah ada, dan saat ini kondisinya cukup intens."
CDC juga mencatat, mayoritas kunjungan ke dokter terjadi pada kelompok usia di bawah 24 tahun, terutama anak usia 4 tahun ke bawah.
Milstone mengatakan hal ini tidak mengejutkan karena anak-anak merupakan 'reservoir' atau sumber penyebaran penyakit pernapasan.
"Mereka banyak berada di lingkungan yang memudahkan virus menyebar, seperti sekolah, daycare, hingga playdate," ujarnya.
"Lalu bisa ada jeda pada data, karena setelah itu banyak anak mengunjungi keluarga dan kakek-nenek mereka saat libur akhir tahun."
CDC menyatakan, meskipun beberapa indikator aktivitas flu tampak stabil atau menurun selama dua pekan berturut-turut, pihaknya tetap memantau kemungkinan adanya gelombang kedua peningkatan kasus flu yang kerap terjadi setelah libur musim dingin.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "'Super Flu' Menggila, Influenza di AS Meledak Jadi 18 Juta Kasus!"
