![]() |
| Tanda-tanda tubuh kelebihan gula. Foto: Getty Images/jirkaejc |
Bukan tanpa alasan jika diabetes disebut ibu dari segala penyakit. Komplikasi yang timbul karena ketidakmampuan tubuh mengontrol kadar gula darah bisa berdampak ke berbagai fungsi organ dan berakibat fatal.
Kondisi tersebut tidak terjadi tiba-tiba, terdapat proses panjang yang luput disadari. Salah satu faktor yang kerap terlibat adalah konsumsi gula berlebih yang berlangsung lama, memicu gangguan metabolik, peradangan, hingga kerusakan jaringan. Untungnya, sebelum kondisi berat muncul, tubuh biasanya sudah memberi banyak sinyal peringatan.
Berikut beberapa tanda yang sering muncul ketika tubuh mulai kewalahan menghadapi asupan gula yang terlalu tinggi secara terus-menerus.
1. Energi Naik Turun Seperti Roallercoaster
Salah satu tanda paling umum dari konsumsi gula berlebihan adalah siklus energi yang tidak stabil. Setelah mengonsumsi minuman manis atau camilan tinggi gula, tubuh memang bisa merasakan lonjakan energi yang cepat, sering disebut sugar rush. Namun efek ini biasanya tidak bertahan lama.
Tak lama kemudian, energi justru turun drastis atau dikenal sebagai sugar crash. Kondisi ini terjadi karena lonjakan gula darah memicu respons insulin yang berlebihan. Insulin bekerja terlalu agresif menarik gula keluar dari aliran darah, sehingga kadar gula darah bisa jatuh terlalu rendah. Akibatnya, tubuh terasa lemas, lesu, sulit fokus, dan suasana hati ikut memburuk.
Bila pola ini terjadi berulang, tubuh seperti dipaksa terus beradaptasi dengan perubahan ekstrem. Ini menjadi sinyal bahwa sistem pengaturan gula darah sedang bekerja di bawah tekanan, meski belum menimbulkan keluhan yang terlihat serius.
2. Terjadi Glikasi
Ketika asupan gula terlalu tinggi dan berlangsung lama, tubuh tidak hanya berhadapan dengan lonjakan gula darah sesaat. Gula juga dapat menempel pada protein dan lemak melalui proses yang disebut glikasi. Proses ini menghasilkan senyawa bernama advanced glycation end products (AGEs).
AGEs bersifat merusak jaringan dengan mempercepat penuaan sel, mengganggu elastisitas pembuluh darah, dan memicu peradangan kronis. Karena terjadi perlahan, glikasi sering tidak menimbulkan keluhan langsung. Namun dalam jangka panjang, proses ini berkontribusi pada berbagai komplikasi metabolik termasuk pada kondisi "jempol kaki copot".
3. Cepat Lapar dan Rasa Ingin Makan Terus
Banyak orang heran mengapa rasa lapar cepat kembali, padahal porsi makan sudah terasa cukup. Salah satu penyebab yang sering luput disadari adalah dominasi gula dalam makanan sehari-hari. Kalori memang masuk, tetapi sinyal kenyang tidak benar-benar bertahan lama.
Ahli endokrinologi menjelaskan bahwa kondisi ini juga berkaitan dengan terganggunya hormon leptin, hormon yang bertugas memberi tahu otak bahwa tubuh sudah cukup makan. Ketika respons leptin melemah, otak keliru membaca kebutuhan energi, sehingga seseorang terdorong makan lebih banyak dari yang dibutuhkan.
Di sisi lain, gula memengaruhi sistem penghargaan di otak dengan memicu pelepasan dopamin. Sensasi nikmat ini hanya berlangsung singkat, lalu diikuti dorongan untuk mencari rasa yang sama. Akibatnya, rasa lapar yang muncul bukan sekadar lapar fisik, melainkan keinginan spesifik terhadap makanan manis atau karbohidrat cepat.
4. Gelisah dan Kesulitan Tidur
Tidak sedikit orang yang mengeluh tidur gelisah tanpa menyadari kaitannya dengan pola makan. Asupan gula yang tinggi, terutama di sore dan malam hari, dapat memicu fluktuasi gula darah yang mengganggu sistem saraf.
Lonjakan gula darah bisa diikuti peningkatan hormon stres seperti kortisol. Dampaknya, tubuh terasa sulit rileks, jantung berdebar ringan, dan tidur menjadi dangkal atau sering terbangun di malam hari.
5. Berat Badan Naik
Kenaikan berat badan memang tidak selalu disebabkan oleh gula, tetapi asupan gula berlebih sering berperan besar, terutama dalam penumpukan lemak di area perut. Saat kebutuhan energi tubuh sudah terpenuhi, kelebihan gula akan diolah oleh hati menjadi lemak. Insulin kemudian mendorong lemak ini masuk ke sel-sel, dan area perut menjadi salah satu lokasi penyimpanan utama.
Lemak perut atau lemak visceral bukan sekadar masalah penampilan. Jenis lemak ini aktif secara metabolik dan berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung serta diabetes tipe 2. Karena itu, perubahan ukuran lingkar pinggang sering kali lebih bermakna dibandingkan angka di timbangan, terutama jika bertambah meski berat badan tidak melonjak drastis.
6. Brain Fog
Dampak konsumsi gula berlebih tidak berhenti pada tubuh, tetapi juga memengaruhi fungsi otak. Ketika kadar gula darah sering naik dan turun secara ekstrem, otak kesulitan mendapatkan pasokan energi yang stabil. Kondisi inilah yang kerap dirasakan sebagai kabut otak atau brain fog.
Asupan gula yang tinggi dapat memicu peradangan sistemik, termasuk di jaringan otak. Di saat yang sama, fluktuasi insulin mengganggu distribusi energi ke sel-sel saraf. Akibatnya, kemampuan untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, dan berpikir jernih menjadi menurun, terutama saat beraktivitas mental yang membutuhkan fokus berkelanjutan.
7. Daya Tahan Tubuh Menurun
Kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu fungsi sel imun. Sel-sel pertahanan tubuh menjadi kurang efektif melawan infeksi dan memperlambat proses penyembuhan luka.
Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat tubuh lebih mudah sakit, cepat lelah, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Sistem imun yang melemah menjadi salah satu dampak konsumsi gula berlebih yang sering tidak disadari.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "7 Sinyal Tubuh Kelebihan Gula, Termasuk Cepat Lapar dan Susah Tidur"
