![]() |
| Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/PATCHARIN SAENLAKON) |
Masalah hormon testosteron bukan hanya menyerang orang dewasa. Ketidakseimbangan hormon karena gaya hidup dan pola konsumsi makanan juga bisa terjadi pada anak dan remaja.
Pakar andrologi Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, Subsp SAAM menceritakan pengalamannya menangani kasus mikropenis remaja akibat kurangnya hormon testosteron. Organ reproduksinya tidak berkembang dengan normal akibat kombinasi gangguan hormon dan berat badan berlebih.
"Pasien umur 17 tahun, ukuran penis kurang dari 1 centimeter, hormonnya rendah. Ini setelah mendapatkan pengobatan, penisnya berubah 3 centimeter, testisnya tetap tidak berubah," ungkap Prof Wimpie.
Menurut Prof Wimpie, rendahnya kadar testosteron pada usia muda dipicu beberapa faktor. Mulai dari paparan eksternal sampai pola makan. Pada anak yang mengalami obesitas, jaringan lemak yang berlebih (terutama di area perut bawah atau pubis) dapat menyebabkan penis terlihat lebih kecil karena terpendam lemak (buried penis).
Lebih jauh lagi, secara medis, jaringan lemak yang berlebih pada laki-laki dapat mengubah hormon testosteron menjadi estrogen, yang akhirnya menghambat pertumbuhan organ reproduksi. Tanpa kadar hormon yang cukup, tubuh tidak bisa mematangkan organ reproduksi selama masa pubertas. Jika dibiarkan, risiko kemandulan mengintai saat dewasa.
"Terapi hormon pada penderita mikropenis saat dewasa berisiko mengalami kemandulan. Hal ini disebabkan terapi testosteron hanya berdampak pada pembesaran penis, sementara fungsi testis tetap tidak berkembang," imbuh Prof Wimpie.
Batas Mikropenis Menurut IDAI
Untuk menghindari keterlambatan penanganan, orang tua perlu mengetahui standar medis. Mengutip panduan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kondisi mikropenis didefinisikan sebagai ukuran panjang penis yang berada di bawah -2,5 standar deviasi dari ukuran rata-rata penis normal seusianya.
Sebagai gambaran praktis, IDAI mencatat bahwa bayi yang baru lahir (cukup bulan) rata-rata memiliki panjang penis sekitar 3,5 cm (batas bawah mikropenis < 2,5 cm). Memasuki usia 1 hingga 2 tahun, rata-rata panjangnya adalah 4,7 cm (batas bawah < 3,5 cm). Sedangkan pada anak usia 5 hingga 6 tahun, panjang rata-rata mencapai 6 cm. Orang tua harus waspada jika pada usia tersebut panjang penis anak kurang dari 4,3 cm.
Prof Wimpie menyarankan orang tua untuk lebih proaktif memeriksakan perkembangan organ intim anak laki-lakinya sejak dini.
"Ukuran testis sama penis anak laki-laki harus diperiksa. Sebaiknya usia 5 tahun dicek," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Dokter Tangani Remaja dengan Mikropenis, Ukuran Mr P Kurang dari 1 Cm"
