Hagia Sophia

27 December 2022

Curhat Warga China: Lebih Nyaman Jomblo

Ilustrasi curhat warga China perihal alasan enggan menikah dan mempunyai anak. Foto: AP/Andy Wong

Sejumlah negara, salah satunya China, diterpa isu 'resesi seks' yang dipahami sebagai penurunan jumlah angka kelahiran imbas warganya enggan menikah dan punya anak. Menurut Kementerian Urusan Sipil China, jumlah pasangan yang baru menikah menurun selama delapan tahun berturut-turut. Pada 2021 menjadi 7,64 juta,rekor terendah sejak 1985.

Tren tersebut meningkat tahun ini. Dalam tiga kuartal pertama, jumlah pasangan yang mendaftar untuk menikah di China mencapai titik terendah dalam sejarah sebesar 5,4 juta.

Para ahli demografi menyebut, meskipun penyusutan jumlah penduduk yang bisa menikah adalah salah satu alasan penurunan tersebut, meningkatnya keengganan warga untuk menikah merupakan faktor yang lebih penting.

Menurut Profesor demografi di Universitas Xian Jiaotong, Jiang Quanbao, penundaan pernikahan terutama bagi perempuan sebenarnya merupakan proses alami di tengah pesatnya urbanisasi dan perluasan pendidikan. Ditambah, harga rumah yang melonjak dan tingginya tekanan di lapangan kerja juga mendorong orang-orang untuk menunda pernikahan.

"Saat ini masih banyak ruang untuk peningkatan lebih lanjut usia pernikahan pertama. China mungkin mengikuti lintasan beberapa negara tetangga seperti Jepang dan Korea Selatan, yang rata-rata usia pernikahan pertama akan terus meningkat," kata Jiang dikutip dari The Star, Senin (26/12/2022).

Menurut survei yang dilakukan tahun lalu oleh Pusat Penelitian Komite Sentral Liga Pemuda Komunis, dari 2.905 responden pemuda perkotaan yang belum menikah berusia antara 18-26 tahun, sekitar 44 persen perempuan mengatakan mereka tidak berencana untuk menikah, dibandingkan dengan hampir 25 orang. persen pria.

Curhat Warga China

Seorang warga China yang bekerja sebagai humas profesional di Beijing, Felisa Li (36), memilih untuk tetap melajang. Menurutnya, wanita China modern kini memiliki lebih banyak pilihan hidup daripada menjadi ibu rumah tangga.

"Dulu tempat perempuan lebih banyak di rumah, sebagai istri dan ibu, tapi sekarang tidak lagi," ujarnya.

"Wanita juga bisa menjalani kehidupan yang hebat dengan mandiri, seperti memiliki pekerjaan yang mereka sukai," imbuh Li.

Saat ini, China telah memulai kebijakan yang mendukung warga untuk mengasuh anak. Di antaranya, dengan mengoptimalkan skema cuti hingga menawarkan lebih banyak layanan pengasuhan anak publik. Namun bagi Li, upaya tersebut masih terlalu sedikit, bagaikan hanya setetes air.

"Jika Anda tinggal di kota tingkat pertama, Anda membutuhkan setidaknya dua kamar tidur jika Anda menginginkan seorang anak. Itu sangat sulit dicapai di Beijing. Saya memiliki flat satu kamar tidur sekarang dan saya sudah mengusahakan yang terbaik," bebernya.

Lainnya, seorang media Liu Maomao memiliki selusin kontak kencan buta di ponselnya. Namun terkait isu resesi seks, Liu mengaku dirinya tidak lagi 'ingin bercinta'.

"Tidak ada alasan khusus, mungkin hanya karena rasanya enak setelah hidup sendiri dalam waktu lama," kata Liu.

Hal senada disampaikan oleh Veronica Qi (26), seorang pekerja lepas di Beijing. Menurutnya, tantangan imbas melonjaknya harga properti tidak ada apa-apanya dibandingkan masa depan yang tidak pasti.

"Beberapa tahun lalu harga rumah juga tinggi, tapi anak muda masih ingin menikah dan punya anak, karena punya harapan untuk masa depan yang lebih baik. Tapi sekarang banyak orang yang depresi, dan mereka berpikir tidak ada banyak harapan untuk masa depan," kata Qi.

Hal itu tak terlepas dari efek kebijakan ketat China dalam penanganan pandemi COVID-19 yakni 'Zero COVID', yang diyakini berimbas kuat pada kondisi ekonomi dan psikologis warga. Namun baru-baru ini, aturan tersebut dicabut dan kini China diterpa amukan kasus COVID-19.

"Pergeseran kebijakan sangat tidak teratur. Selama tiga tahun terakhir ini Zero-COVID, dan sekarang tiba-tiba dicabut. Tapi apakah akan ada hal serupa di masa depan? Kami tidak tahu, dan saya tidak ingin anak saya tinggal di lingkungan seperti itu," beber Qi.

"Karena saya tidak memiliki harapan yang baik untuk masa depan, dan saya bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. "Mengapa saya harus membawa orang lain (anak) atau bahkan orang ketiga atau keempat ke dalamnya?" pungkasnya.




















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Curhat Warga China Lebih Nyaman Jomblo Jadi Ogah Nikah"