Hagia Sophia

16 December 2022

Dampak Aturan Dilonggarkan di China, Banyak Nakes yang Terinfeksi COVID-19

COVID-19 naik lagi (Foto: Getty Images/MarioGuti)

Kasus COVID-19 di China semakin serius. Dikutip dari Reuters, unggahan sosial media di China menunjukkan para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan (nakes) lainnya tetap bekerja meskipun didiagnosis positif COVID-19. Hal ini dikarenakan rumah sakit dan klinik mengalami lonjakan pasien COVID-19 dengan gejala sedang.

Terkait hal ini, pejabat kesehatan China belum memberikan komentar apapun. Sementara itu, pakar kesehatan sudah mewanti-wanti kemungkinan lonjakan kasus parah akibat pelonggaran COVID-19 di China.

Pihak Reuters belum mendapatkan update terkait situasi rumah sakit, termasuk Bed Occupation Rates (BOR). Namun, foto-foto di sosial media menunjukkan bahwa pasien di Beijing dan Baoding menunggu berjam-jam untuk mendapatkan perawatan.

Sebelumnya, pejabat kesehatan China menyarankan agar pasien COVID-19 dengan gejala ringan dapat dikarantina di rumah. Mereka juga melaporkan bahwa sebagian dari pasien COVID-19 hanya mengalami gejala ringan atau tanpa gejala.

"Rumah sakit kami kewalahan dengan pasien," ujar dokter bermarga Li di sebuah rumah sakit tersier Provinsi Sichuan.

Li menuturkan, dalam satu hari rumah sakit tersebut kedatangan 700 hingga 800 pasien per hari. Stok obat-obatan juga habis dan saat ini sedang menunggu pemasok untuk mengirimkan obat-obatan tersebut.

Menurut Li, beberapa nakes banyak yang terpapar COVID-19 tetapi tidak ada perlindungan khusus bagi mereka. Li meyakini nantinya nakes-nakes lain juga akan positif COVID-19.

"Saya dibanjiri hampir 200 pasien dengan gejala COVID-19 tadi malam," ujar salah satu suster dari rumah sakit berbeda di Chengdu.

Ahli Epidemiologi Hong Kong University Ben Cowling mengatakan kekurangan nakes di Hong Kong berkontribusi pada angka kematian di negara tersebut. Ia juga memperingatkan hal yang sama akan terjadi di China.

"Salah satu alasan kami (Hong Kong) memiliki tingkat kematian yang tinggi adalah kami tidak memiliki sumber daya rumah sakit yang cukup untuk mengatasi lonjakan tersebut," ujar Cowling.

"Sayangnya, itulah (angka kematian yang tinggi) yang akan terjadi dalam waktu satu atau dua bulan ke depan di China," bebernya.

Selain lonjakan kasus parah, lonjakan kasus ringan di antara lansia juga membuat rumah sakit di Hong Kong kewalahan. Cowling menyarankan agar rumah sakit mengosongkan sejumlah tempat tidur untuk perawatan isolasi pada lansia.

Di Beijing, saat ini sudah ada 50 pasien dalam kondisi serius atau kritis akibat COVID-19. Hal ini disampaikan oleh media milik pemerintah Xinhua pada Selasa (13/12/2022).

Kondisi Kacau Balau

Pelonggaran aturan COVID-19 memicu antrean di depan klinik yang dikhawatirkan dapat terjadi lonjakan kasus. Pemerintah juga tidak mewajibkan tes, sehingga angka yang dilaporkan masih tergolong rendah.

Salah satu dokter rumah sakit di Beijing mengatakan sekitar 80 persen nakes harus tetap bekerja meski positif COVID-19 karena kekurangan tenaga. Sejumlah operasi juga dikabarkan batal kecuali operasi bagi pasien yang 'meninggal besok'.

Sebuah postingan di platform media sosial Weibo menceritakan pengalaman baru-baru ini di bangsal darurat di Rumah Sakit Beijing. Unggahan tersebut melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang-orang yang sangat membutuhkan pembedahan dibuat untuk menunggu.

"Mereka yang belum pernah ke unit gawat darurat Rumah Sakit Beijing tidak tahu betapa berantakannya itu," tulis seorang pengguna Weibo bernama Moshang.

Hingga berita ini ditulis, pihak Rumah Sakit Beijing belum memberikan pernyataan resmi.

Kepala perawat di salah satu Rumah Sakit daerah Huanshan, Provinsi Anhui China menulis unggahan di media sosial Weibo. Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan banyak rekan kerjanya yang terinfeksi relatif serius dan mengalami demam tinggi.

Salah satu anonim di bagian farmasi juga menyebut banyak dokter di Rumah Sakit Tongji positif COVID-19. Mirisnya, para dokter tidak diizinkan untuk mengambil cuti sejak Minggu (11/12/2022).

"Mereka harus tetap bekerja selama sakit," kata salah satu pasien yang enggan disebutkan namanya.

Sama seperti Rumah Sakit Beijing, Rumah Sakit Tongji juga belum menanggapi perihal 'kekacauan' ini.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Aturan Dilonggarkan, Banyak Nakes China Jadi Positif COVID-19"