Hagia Sophia

01 March 2023

Wanita di China Bekukan Sel Telur Sebagai Dampak Resesi Seks

Imbas resesi seks, wanita lajang di China diminta bekukan sel telur. (Foto: AP/Mark Schiefelbein)

Pada 2022, populasi negara China mengalami kemerosotan pertama kalinya dalam enam dekade terakhir. Atas dasar tersebut, anggota penasihat politik di China mengusulkan izin bagi wanita yang belum menikah untuk mengakses pembekuan sel telur sebagai langkah untuk menjaga kesuburan mereka.

Kepada media Global Times, anggota penasihat politik China Lu Weiying menuturkan dirinya juga mengusulkan untuk memasukkan perawatan infertilitas dalam sistem asuransi kesehatan masyarakat. Usulan ini akan disampaikan dalam Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC) yang akan dimulai pada 4 Maret.

Lu yang juga merupakan dokter fertilitas di provinsi Hainan selatan China, alasan dari usul tersebut. Menurutnya, memberi wanita lajang akses untuk membekukan sel telur mereka memungkinkan mereka mengawetkan sel telur sebelum melewati masa reproduksi puncaknya.

"Wanita itu masih perlu menikah jika dia ingin menggunakan sel telur bekunya dan hamil di masa depan," kata Lu dikutip dari Reuters, Selasa (28/2/2023).

Rekomendasi Lu datang ketika pihak berwenang mencoba untuk meningkatkan angka kelahiran yang goyah dengan insentif termasuk memperluas cuti melahirkan, tunjangan keuangan dan pajak untuk memiliki anak serta subsidi perumahan. Tahun lalu, China mencatat tingkat kelahiran terendah, yaitu 6,77 kelahiran per 1.000 orang.

Beberapa provinsi telah mengubah peraturan mereka untuk meningkatkan angka kelahiran. Salah satunya provinsi Jilin di China timur laut.

Provinsi yang memiliki salah satu tingkat kelahiran terendah di negara itu, mengubah aturannya pada tahun 2002 untuk mengizinkan wanita lajang mengakses IVF. Namun, hal itu berdampak kecil dengan praktik yang masih dilarang secara nasional di bawah Komisi Kesehatan Nasional China.

Tingkat kesuburan China 2022 sebesar 1,18 adalah yang terendah. Angka tersebut jauh di bawah standar Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) 2,1 untuk populasi yang stabil.

Meski demikian, Negeri Tirai Bambu ini belum merilis data kesuburannya secara resmi untuk tahun 2022.

Penyebab penurunan demografi di China yaitu kebijakan satu anak China yang diberlakukan antara tahun 1980-2015. Di samping itu, tingginya biaya pendidikan juga menjadi faktor resesi seks di negara tersebut.






















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Imbas Resesi Seks, Wanita Lajang China Diminta Bekukan Sel Telur"