Hagia Sophia

23 January 2024

Dampak Krisis Populasi, Banyak SD di Korsel Miliki Murid Kurang dari 60 Siswa

Ilustrasi Korea Selatan diterpa penurunan angka kelahiran. Foto: Getty Images/Woohae Cho

Satu dari lima Sekolah Dasar di Korea kini memiliki kurang dari 60 siswa, sementara satu dari 10 SD memiliki kurang dari 30 siswa. Kondisi tersebut merupakan dampak dari penurunan angka kelahiran, yang terjadi imbas banyak warga Korea Selatan ogah menikah dan memiliki anak.

Mengacu pada data dari Institut Pengembangan Pendidikan Korea yang dirilis Senin (22/1/2024), dari 6.175 sekolah dasar di seluruh negeri, jumlah siswa secara keseluruhan kurang dari 60 orang di 1.424 sekolah, atau setara hanya mencapai 23,1 persen dari jumlah siswa setahun lalu.

Angka tersebut meningkat 2,3 kali lipat dibandingkan jumlah siswa pada 2003 ketika 610, atau setara 11,2 persen dari 5.463 sekolah memiliki kurang dari 60 siswa.

Provinsi Jeolla Selatan misalnya, tercatat mempunyai jumlah sekolahterbanyak tahun lalu dengan jumlah 212 sekolah. Disusul oleh Provinsi Gyeongsang Utara dengan 207 sekolah, Provinsi Jeolla Utara dengan 206 sekolah, dan Provinsi Chungcheong Selatan dengan 177 sekolah.

Jumlah sekolah dasar yang memiliki kurang dari 30 siswa meningkat drastis sebesar 4,1 kali lipat menjadi 584, atau setara 9,5 persen, dibandingkan tahun 2003 yang hanya berjumlah 141, atau setara 2,6 persen.

Kementerian Pendidikan melaporkan, jumlah siswa SD, SMP dan SMA diperkirakan menurun dari 5,13 juta pada tahun ini menjadi 4,84 juta pada 2026. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus turun menjadi 4,27 juta pada 2029.

Separah Apa Kondisi di Korea Selatan Kini?

Imbas banyak warganya memilih untuk tidak memiliki anak, Korea Selatan kini menjadi negara dengan tingkat kesuburan terendah di dunia, dengan tingkat kesuburan sebesar 0,78 pada 2022. Angka kesuburan di artikan sebagai jumlah bayi yang lahir dari setiap wanita.

Angka tersebut telah turun dari 0,84 pada 2020 dan 0,81 pada tahun 2021.

Seiring penurunan populasi kini, pemerintah berupaya mendorong keinginan warga untuk memiliki anak dengan cara memperluas insentif persalinan, tunjangan cuti ayah, dan menyediakan program kesejahteraan perumahan bagi keluarga yang memiliki bayi baru lahir.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Saking Anjloknya Populasi, Sejumlah SD di Korsel Cuma Punya Kurang dari 60 Siswa"