Hagia Sophia

23 January 2024

Elon Musk: Tesla Akan Pakai Baterai LFP

Ini Alasan Elon Musk Makin Tergoda Baterai LFP di Tesla. Foto: unwired.

Baterai berbasis nikel masih banyak dipakai oleh Tesla. Namun Elon Musk selaku nakhoda Tesla, terindikasi makin tertarik dengan baterai lithium ion phosphate atau LFP, baterai yang disebut Gibran Rakabuming dalam debat Cawapres. Kenapa demikian?

Dikutip detikINET dari Business Times, Selasa (23/1/2024) tantangan terbesar adopsi massal kendaraan listrik adalah harga yang masih cukup tinggi. Komponen termahalnya adalah baterai, mencakup sekitar sepertiga dari ongkos pembuatannya.

Itulah mengapa produsen kendaraan listrik di China, memilih menggunakan baterai LFP yang lebih murah, meski ada kekurangannya dibanding baterai dari nikel. Baterai LFP ini juga jadi perhatian masyarakat Indonesia karena dibahas dalam debat cawapres. Elon Musk sendiri mulai melirik LFP sejak beberapa tahun silam, terutama saat terjadi kelangkaan pasokan nikel.

"Nikel adalah perhatian terbesar kami dalam meningkatkan produksi sel litium-ion. Itu sebabnya kami mengalihkan mobil standar ke katoda besi (LFP). Ada banyak zat besi (dan litium)!" cuit Elon Musk beberapa waktu silam.

Sejak Oktober 2020, Tesla memproduksi Model 3 Standar Range di Gigafactory Shanghai dengan baterai LFP. Sebagian produksi itu diekspor ke Eropa. Di Amerika Serikat, mayoritas Tesla masih memakai baterai nikel, tapi bukan tidak mungkin ada perubahan. Tesla juga akan menggunakan baterai LFP di Semi Truck yang akan datang.

Sebagian besar katoda baterai lithium ion terbuat dari nikel dan kobalt. Menilik sejarah, riset di AS menunjukkan teknologi LFP punya potensi pada akhir tahun 1990-an. Perusahaan di China mulai mengkomersialkannya di pertengahan tahun 2000 dan kini semakin diminati.

Karena bijih besi lebih melimpah dan lebih murah untuk diekstrak ketimbang nikel dan kobalt, proses produksi LFP pun lebih murah. Baterai jenis ini juga tidak mudah terbakar.

Namun kelemahannya, energinya memang tidak sebesar katoda nikel, sehingga baterai yang lebih besar dan berat diperlukan untuk jarak jauh. Tetapi lama kelamaan, teknologinya termasuk jarak yang bisa dicapainya semakin baik.

Kekhawatiran Dominasi China

Lebih dari separuh kendaraan listrik yang diproduksi tahun silam terjual di China. Perusahaan-perusahaan China juga mencakup lebih dari 50% market share baterai tahun silam. Baterai LFP asal China pun terhitung murah.

Hal ini memicu kekhawatiran China akan terlalu mendominasi industri mobil listrik. Sebab, sekitar 99% produksi global katoda baterai LFP berasal dari China. Bos otomotif barat khawatir kekuasaan China di sektor kendaraan listrik menimbulkan risiko, misalnya jika ada perang dagang.

Namun demikian, baterai nikel diprediksi takkan ditinggalkan. Ada beberapa implementasi baterai nikel yang tidak bisa dilakukan oleh LFP, sehingga teknologinya tetap menarik khususnya di kendaraan listrik yang mahal dan panjang jarak jangkuannya.



























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Elon Musk Makin Tergoda Tesla Pakai Baterai LFP yang Disebut Gibran"