Hagia Sophia

23 January 2024

Ini yang Dirasakan Pengidap Penyakit Prostat, Sakit Saat Buang Air Kecil

Cerita pria yang alami pembesaran prostat, seperti yang dialami Raja Charles III. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/krblokhin)

Raja Charles III belum lama ini menjalani perawatan imbas pembesaran atau pembengkakan prostat. Pihak kerajaan mengungkapkan kondisi Raja Charles III tidak terlalu berbahaya dan telah menjalani operasi.

Pembesaran prostat adalah suatu kondisi yang bisa mempengaruhi cara seseorang buang air kecil, umum terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun. Kondisi pembesaran prostat tidak termasuk kanker dan biasanya bukan merupakan ancaman serius bagi kesehatan.

Jika prostat membesar, hal ini dapat memberi tekanan pada kandung kemih dan uretra, yaitu saluran yang dilalui urine. Seseorang menjalani beberapa tes berbeda untuk mengetahui apakah benar-benar mengalami pembesaran prostat.

Salah satu pasien yang mengidap penyakit tersebut adalah Philip Dyer di Kent, Inggris. Ia menceritakan rasa sakit yang luar biasa karena tidak bisa buang air kecil dan dipasangi kateter.

Pada 2018, pria 70 tahun itu pertama kali menemui dokternya setelah mengalami gejala. Dia diberi resep obat untuk mengatasi rasa sakitnya.

Sekitar empat tahun kemudian, pada 2022, Philip akhirnya terbebas dari kondisi tersebut.

"Saya berada 150 mil (sekitar 241 km) dari rumah dalam perjalanan golf akhir pekan bersama beberapa teman saat itu. Kami bermain golf, diikuti dengan satu pint bir, dan saat itulah hal itu terjadi. Saya tidak lagi bisa buang air kecil," tutur Philip yang dikutip dari Mirror UK, Senin (22/1/2024).

"Pada jam 4 pagi di Sabtu pagi itu, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Saya melakukan semua yang saya bisa untuk mencoba buang air kecil, tetapi tidak ada yang berhasil," sambungnya.

Keesokan paginya, Philip dilarikan ke rumah sakit dan kandung kemihnya dikosongkan dari dua liter cairan menggunakan kateter. Tim medis mengungkapkan seperempat cairan lagi akan membanjiri ginjalnya, sehingga dia harus menggunakan mesin dialisis.

Setiap dua minggu, kondisi Philip harus dipantau. Namun, kemajuan kondisinya sangat terbatas.

"Itu adalah saat yang mengerikan bagi saya. Rasanya tidak bermartabat dan menyakitkan. Mental saya tidak stabil. Saya tidak suka ketika berbaring di tempat tidur, tidak bisa bergerak, dan saat membalikkan badan, rasanya seperti ditendang," jelas Philip.

"Saya hanya punya pipa plastik yang mencuat dari penis saya, dan itu bukan cara untuk hidup."

Enam bulan setelah kateter pertama kali dipasang, Philip berkonsultasi dengan urolog di di Rumah Sakit Kent dan Canterbury untuk sistoskopi pertamanya. Saat diperiksa dengan kamera, terlihat prostatnya membesar hingga terbelah menjadi tiga lobus dan menghalangi aliran urine.

Konsultan mendiagnosis Philip menderita pembesaran prostat, yang juga dikenal sebagai hiperplasia prostat jinak (BPH). Sampai akhirnya ia akan menemukan pengobatan alternatif, yakni terapi aquablasi yang juga dikenal sebagai ablasi jet air transurethral.

Terapi ini adalah perawatan jet air bebas panas yang dibantu secara robotik, yang melibatkan penyuntikan jet air berkecepatan tinggi ke dalam prostat untuk menghancurkan beberapa jaringan prostat dan memperlebar uretra.

"Untuk pertama kalinya dalam enam bulan saya bisa buang air kecil tanpa kateter," ungkapnya.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Rasanya Kena Pembesaran Prostat, Kondisi yang Diidap Raja Charles III"