Hagia Sophia

04 March 2024

Tantangan Penderita Kanker Anak di RI: Dokter Minim dan Kasus Tinggi

Foto: Della Monica Stefanni/detikHealth

Angka penderita kanker anak di Indonesia cukup memprihatinkan, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbanyak di Asia Tenggara berdasarkan data World Health Organization (WHO). Padahal, anak-anak penderita kanker di Tanah Air masih memiliki tantangan tersendiri lantaran minimnya jumlah dokter ahli kanker anak di Indonesia.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, data Globocan tahun 2020 menunjukkan jumlah penderita kanker pada anak (0-19 tahun) mencapai 11.156. Namun, berdasarkan data Indonesian Pediatric Center Registry, terdapat peningkatan kasus baru kanker anak mencapai 3.834 di sepanjang tahun 2021-2022.

Data WHO pada 2021 menyebutkan kanker anak yang dapat disembuhkan di Indonesia hanya kurang dari 30% kasus. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi hal ini, seperti keterlambatan diagnosis akibat tidak mengenali gejala dini kanker anak sehingga pengobatan yang dijalankan tidak optimal dan angka kematiannya tinggi.

Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Ira Soelistyo pun mengungkapkan salah satu masalah krusial yang harus dihadapi penderita kanker anak terkait minimnya jumlah dokter. Dalam sebuah acara yang digelar untuk memperingati Hari Kanker Anak di kawasan Gandaria City, ia mengatakan hingga saat ini hanya ada 90 dokter ahli kanker anak di seluruh Indonesia yang mayoritasnya hanya berpraktik di kota-kota besar.

"Itu terus terakumulasikan. Ke mana mereka berobat, jadi banyak sekali yang di pelosok-pelosok yang meninggal begitu aja, tanpa mungkin mereka tahu sakit apa. Itulah yang ingin kita suarakan," ungkap Ira di acara #BeraniGundul 2024 untuk kepedulian kanker anak di Jakarta Selatan, Minggu (3/3/2024).

Risiko Paparan BPA Bisa Tingkatkan Kasus Kanker Anak di Indonesia

Dikutip dari dataindonesia.id, diperkirakan angka penderita kanker anak di Indonesia menjadi yang tertinggi dibandingkan negara lainnya di Asia Tenggara. Adapun Filipina berada di posisi kedua dengan 3.507 anak penderita kanker pada 2020. Sedangkan Vietnam di angka 2.806 kasus dan Thailand di 1.437 kasus.

Ada berbagai hal yang dapat memicu risiko kanker ini. Salah satunya yang santer dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir ialah paparan senyawa Bisphenol A (BPA) pada kemasan makanan atau minuman yang berisiko memicu kanker, termasuk pada anak-anak.

Sebagaimana diketahui, senyawa BPA banyak digunakan dalam pembuatan plastik. Dilansir dari jurnal National Library of Medicine berjudul 'A Comprehensive Review on The Carcinogenic Potential of Bisphenol A: Clues and Evidence', paparan BPA berdampak signifikan pada pertumbuhan, kelangsungan hidup, proliferasi, invasi, hingga migrasi berbagai jenis sel dalam tubuh, tak terkecuali sel kanker. Tak hanya itu, paparan BPA juga dapat memfasilitasi resistensi kemoterapi terhadap obat antikanker.

Meski dibutuhkan penelitian lebih lanjut, namun tak sedikit penelitian yang menunjukan potensi paparan BPA dalam karsinogenesis atau proses pembentukan sel kanker. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian yang lebih komprehensif untuk terus mengungkap pengaruh BPA pada tingkat molekuler di berbagai jenis kanker.

Kendati demikian, kesadaran untuk mengurangi bahkan menghindari paparan BPA sangatlah penting. Salah satunya demi menghindari berbagai risiko penyakit yang disebabkannya, termasuk juga menekan tingginya angka penderita kanker terutama pada anak di Indonesia.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter Minim-Kasus Tinggi, Ini Tantangan Anak Penderita Kanker di RI"