Hagia Sophia

23 April 2024

Misteri Segitiga Bermuda Menurut Sains

Begini Sains Memecahkan Misteri Segitiga Bermuda Foto: Marine Insight

Segitiga Bermuda, wilayah lautan antara Florida, Puerto Riko, dan Bermuda, terkenal dengan reputasinya yang misterius. Selama berabad-abad, banyak kisah tentang kapal dan pesawat yang hilang tanpa jejak di wilayah ini beredar, memicu spekulasi tentang kutukan, alien, dan bahkan portal ke dimensi lain.

Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada tahun 1945 ketika Penerbangan 19, sekelompok lima pembom Angkatan Laut AS dalam misi pelatihan, menghilang di daerah tersebut. Selama beberapa dekade berikutnya, bangkai kapal dan jatuhnya pesawat di area tersebut sering kali dikaitkan dengan kekuatan destruktif Segitiga.

Kemudian, pada tahun 1975, Larry Kusche menerbitkan sebuah buku yang membantah legenda tersebut, mengungkapkan bahwa laporan tentang Segitiga tidak akurat, berlebihan, atau tidak dapat diverifikasi. Ia menyimpulkan bahwa jumlah insiden di wilayah ini tidak jauh lebih tinggi dibandingkan di wilayah lautan lainnya.

Hingga saat ini banyak penjelasan - baik alamiah maupun supernatural - telah diajukan selama bertahun-tahun. Sains sendiri telah menawarkan penjelasan yang jauh lebih rasional untuk fenomena yang membingungkan ini.

Dikutip dari Science Focus, penelitian ilmiah telah mengungkap berbagai faktor alam yang berkontribusi pada hilangnya nyawa dan kapal di Segitiga Bermuda. Salah satu penjelasan yang paling aneh adalah gelembung metana yang dilepaskan dari dasar laut menyebabkan kapal terbalik. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Survei Geologi AS mencatat tidak ada pelepasan metana yang signifikan dalam 15.000 tahun terakhir.

Tingginya kejadian badai di kawasan ini bisa saja menimbulkan dampak serius pada masa sebelum prakiraan cuaca yang akurat memungkinkan pilot dan kapten menghindari cuaca buruk.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa badai yang menyatu dapat menghasilkan gelombang ganas setinggi 30 meter yang bahkan dapat menenggelamkan kapal-kapal besar. Simulasi laboratorium memastikan bahwa gelombang seperti itu berpotensi menenggelamkan kapal, namun tidak ada bukti bahwa gelombang tersebut benar-benar terjadi di Segitiga Bermuda.

Beberapa orang menyatakan bahwa anomali magnetik menyebabkan pelaut dan pilot yang melakukan navigasi dengan kompas menyimpang dari jalurnya. Meskipun tidak ada anomali seperti itu yang teridentifikasi, pada awal abad ke-20 utara geografis dan utara magnetis sebenarnya sejajar di Segitiga Bermuda, yang dapat menyebabkan kesalahan navigasi.

Faktor lainnya aliran arus teluk yang hangat dan kuat bertemu dengan Arus Labrador yang dingin di Segitiga Bermuda. Pertemuan arus ini dapat menghasilkan pusaran air yang berbahaya dan gelombang tak terduga, yang dapat menyeret kapal ke bawah dan membingungkan navigasi.

Faktor manusia juga berperan dalam banyak hilangnya di Segitiga Bermuda, mulai dari kesalahan navigasi, kegagalan peralatan, dan keputusan yang buruk dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa sistem navigasi yang buruk dapat menyebabkan hilangnya komunikasi dan berujung pada kecelakaan.





 




















Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Begini Sains Memecahkan Misteri Segitiga Bermuda"