Hagia Sophia

23 April 2024

Kondisi RS Al-Shifa yang Hancur Lebur Usai Diserang Israel

Rumah Sakit Al Shifa (Foto: REUTERS/Dawoud Abu Alkas)

Misi multi lembaga yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakses Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza utara pada 5 April untuk melakukan penilaian awal mengenai tingkat kerusakan. Mereka juga mengidentifikasi kebutuhan untuk memandu upaya masa depan dalam memulihkan fasilitas tersebut.

Misi yang sangat kompleks ini dilakukan dalam kemitraan erat dengan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Layanan Pekerjaan Ranjau PBB (UNMAS), Departemen Keselamatan dan Keamanan PBB (UNDSS), dan bekerja sama dengan pejabat Direktur Rumah Sakit.

Sebelum misi tersebut dilaksanakan, upaya WHO untuk mencapai rumah sakit untuk mengevakuasi pasien dan staf secara medis serta melakukan penilaian sempat ditolak, ditunda atau dihalangi sebanyak 6 kali antara tanggal 25 Maret dan 1 April.

Seperti sebagian besar wilayah utara, Rumah Sakit Al-Shifa, yang pernah menjadi rumah sakit rujukan terbesar dan terpenting di Gaza, kini tidak berdaya setelah pengepungan terakhir. Tidak ada pasien yang tersisa di fasilitas tersebut.

Sebagian besar bangunan RS pun rusak parah atau hancur, bahkan sebagian besar peralatan tidak dapat digunakan atau telah menjadi abu.

"Perang yang terjadi telah membuat fasilitas tersebut tidak berfungsi sama sekali, sehingga semakin mengurangi akses terhadap layanan kesehatan yang menyelamatkan jiwa di Gaza," kata tim WHO, dikutip dari laman WHO, Senin (22/4/2024).

Memulihkan fungsi minimal sekalipun dalam jangka pendek tampaknya tidak masuk akal dan akan memerlukan upaya besar untuk menilai dan membersihkan lahan dari persenjataan yang belum meledak. Hal ini tentunya berguna memastikan keselamatan dan aksesibilitas bagi mitra untuk membawa peralatan dan perbekalan.

Gedung gawat darurat, bedah, dan bangsal bersalin rumah sakit rusak parah akibat bahan peledak dan kebakaran. Dinding barat unit gawat darurat dan dinding utara unit perawatan intensif neonatal (NICU) telah dirobohkan.

Setidaknya 115 tempat tidur di unit gawat darurat telah terbakar dan 14 inkubator di NICU hancur, serta aset lainnya. Penilaian mendalam oleh tim insinyur diperlukan untuk menentukan apakah bangunan ini aman untuk digunakan di masa depan.

Pabrik oksigen di rumah sakit tersebut juga telah hancur, sehingga Rumah Sakit Kamal Adwan menjadi satu-satunya sumber produksi oksigen medis di wilayah utara. Penilaian komprehensif lebih lanjut sangat penting untuk mengevaluasi fungsi peralatan vital seperti CT scanner, ventilator, alat sterilisasi, dan peralatan bedah, termasuk alat bedah dan alat anestesi.

Situasi saat ini telah menyebabkan Gaza utara tidak memiliki kemampuan pemindaian CT dan berkurangnya kapasitas laboratorium secara signifikan, sehingga sangat mengganggu efektivitas diagnosis, yang pada gilirannya akan meningkatkan kematian yang dapat dihindari.

Lebih lanjut, WHO juga melaporkan banyak kuburan dangkal telah digali di luar unit gawat darurat, serta gedung administrasi dan bedah. Di area yang sama, banyak jenazah yang terkubur sebagian dengan anggota tubuh terlihat. Dalam kunjungan tersebut, staf WHO menyaksikan setidaknya 5 jenazah tergeletak sebagian tertutup di tanah, terkena panas.

Tim melaporkan bau menyengat dari mayat-mayat yang membusuk memenuhi kompleks rumah sakit. Menjaga martabat, bahkan dalam kematian, merupakan tindakan kemanusiaan yang sangat diperlukan.

Menurut pejabat Direktur Rumah Sakit Al Shifa, pasien ditahan dalam kondisi yang buruk selama pengepungan. Mereka mengalami kekurangan makanan, air, layanan kesehatan, kebersihan dan sanitasi, dan terpaksa pindah ke bangunan lain di bawah todongan senjata.

Setidaknya 20 pasien dilaporkan meninggal karena kurangnya akses terhadap perawatan dan terbatasnya pergerakan tenaga kesehatan.

Enam bulan, setengah tahun perang terjadi, hancurnya Rumah Sakit Al-Shifa dan Kompleks Medis Nasser telah mematahkan tulang punggung sistem kesehatan di Gaza yang sudah lemah.

Sebelum pengepungan terakhir, WHO dan mitranya telah mendukung kebangkitan layanan dasar di Rumah Sakit Al-Shifa, dan Kompleks Medis Nasser secara rutin disuplai untuk terus berfungsi sebagai rumah sakit utama di Gaza selatan.





 




















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Ungkap Kondisi RS Al-Shifa, Hancur Lebur Pasca 6 Bulan Digempur Israel"