![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/travelism |
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 40,43 persen pekerja di Indonesia menghadapi overtime dengan rata-rata waktu bekerja hampir 10 jam dalam satu hari.
Mengacu Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), bahkan sebanyak 25,47 persen penduduk bisa bekerja lebih dari 49 jam per minggu atau satu dari empat pekerja di Indonesia bekerja secara berlebihan atau overwork.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi menekankan overtime sebetulnya tidak berisiko bagi kesehatan selama pekerja masih bisa menyisakan waktu untuk tetap memperhatikan asupan gizi sehari-harinya hingga aktivitas olahraga.
Pasalnya, tubuh yang lelah butuh waktu untuk menyesuaikan sistem metabolisme mereka. Dalam beberapa kasus, kurangnya istirahat jelas berdampak pada risiko peningkatan tekanan darah tinggi.
Bila tidak kunjung tertangani, tentu potensi penyakit tidak menular relatif semakin sulit dihindari.
"Yang pasti kan tubuh kita butuh mekanisme untuk menjaga metabolisme, jadi kalau misalnya asupan gizi kita baik, sebenarnya work life balance, olahraganya tetap ada, itu aman," sorotnya, saat ditemui detikcom di Kemenkes RI, Selasa (27/1/2026).
Walhasil, dr Nadia memastikan setiap orang harus mengenali sinyal dari tubuh masing-masing. Dalam kondisi kelelahan, tubuh kerap mengirimkan sinyal bahaya yang jarang disadari.
"Jadi harus dipastikan kondisi-kondisinya overtime seperti apa, selama tubuh kita masih bisa adaptasi dengan kondisi tersebut, tidak apa-apa," kata dia.
"Tapi kalau overtime sudah berlebihan pasti misalnya tensi bisa naik gula darah bisa naik karena metabolisme kita terganggu, otomatis kalau tensi naik gula darah naik sering pusing itu lama-lama bisa berpotensi gula naik tensi naik, dan nanti menjadi penyakit jantung stroke, karena semua berawal dari terlalu capek," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Risiko Kena Stroke-Sakit Jantung Hantui Jutaan Pekerja di RI Akibat Overwork"
