Hagia Sophia

25 January 2023

WHO Telusuri Kasus Gagal Ginjal Akut di Indonesia dan Gambia

Ilustrasi obat sirup (Foto: Getty Images/iStockphoto/simarik)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini menyelidiki hubungan produsen sejumlah sirup obat batuk yang terkontaminasi, berkaitan dengan kematian lebih dari 300 anak di tiga negara akibat gagal ginjal akut misterius. Di Indonesia, kasus gagal ginjal tersebut diduga kuat dipicu oleh kontaminasi etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) dalam kadar melebihi batas aman di sejumlah produk sirup obat batuk.

WHO kini mencari informasi lebih lanjut terkait bahan mentah spesifik yang digunakan oleh enam produsen di India dan Indonesia untuk memproduksi obat-obatan. WHO juga ingin mencari tahu, apakah produsen-produsen produk obat sirup cair tersebut memperoleh pasokan bahan pelarut obat cair dari pemasok yang sama dari beberapa negara. Hingga kini, WHO belum menyebutkan nama pemasok mana pun.

Kematian anak akibat gagal ginjal akut dimulai pada Juli 2022 di Gambia, diikuti kasus serupa di Indonesia dan Uzbekistan. WHO mengatakan kematian tersebut berkaitan dengan sirup obat batuk yang dijual bebas dan dikonsumsi anak-anak. Diketahui, obat-obat tersebut mengandung racun EG dan EG yang terkandung dalam produk obat dengan kadar melebihi batas aman.

Sampai saat ini, WHO telah mengidentifikasi enam pembuat obat di India dan Indonesia yang memproduksi sirup tersebut.

"Ini adalah prioritas tertinggi bagi kami, untuk melihat tidak ada lagi kematian anak dari sesuatu yang sangat dapat dicegah," kata juru bicara WHO Margaret Harris, dikutip dari Reuters, Selasa (24/1/2023).

Pada Senin (23/1), WHO juga menyebut pihaknya telah memperluas penyelidikan terhadap potensi kasus serupa di negara lain yakni Kamboja, Filipina, Timor Leste, dan Senegal. Pasalnya di keempat negara tersebut, produk yang sama yang diduga memicu kasus gangguan ginjal akut misterius juga dijual secara bebas.

WHO meminta pemerintah dan industri farmasi global untuk meluncurkan pemeriksaan mendesak, membasmi obat-obatan di bawah standar dan meningkatkan regulasi.

WHO telah mengeluarkan peringatan khusus untuk sirup obat batuk yang dibuat oleh dua produsen India, Maiden Pharmaceuticals dan Marion Biotech, pada Oktober 2022 dan awal bulan ini. Produk dari perusahaan tersebut disebut berkaitan dengan kasus gagal ginjal akut misterius di Gambia dan Uzbekistan. Lewat peringatannya, WHO meminta agar obat dari produsen tersebut berhenti digunakan.

Pabrik manufaktur Maiden dan Marion telah ditutup. Maiden kini berusaha untuk membuka kembali pabriknya setelah pemerintah India mengatakan pada bulan Desember bahwa pengujiannya tidak menemukan masalah dengan produk Maiden.

Sorotan WHO buat Indonesia

Pada Desember lalu di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menetapkan sanksi administratif kepada 6 perusahaan farmasi. Keenamnya ditemukan menggunakan bahan pelarut obat cair terlarang EG dan DEG melebihi ambang batas.

6 perusahaan tersebut adalah:
  • PT Yarindo Farmatama (PT YF)
  • PT Universal Pharmaceutical Industries (PT UPI)
  • PT Afi Farma (PT AF)
  • PT Ciubros Farma (PT CF)
  • PT Samco Farma (PT SF)
  • PT Rama Emerald Multi Sukses (PT REMS)
WHO mengatakan produk obat sirup terkontaminasi dietilen glikol dan etilen glikol, yang disebutnya sebagai 'bahan kimia beracun'. Bahan tersebut umumnya digunakan sebagai pelarut industri dan bahan antibeku yang bisa berakibat fatal meski dikonsumsi dalam jumlah kecil.

Efek toksiknya termasuk ketidakmampuan untuk buang air kecil, cedera ginjal, dan kematian.






















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Telusuri Kasus Gagal Ginjal Akut di RI-Gambia, Ini yang Dikhawatirkan"