Hagia Sophia

14 February 2023

Kemacetan Jakarta Membuat Risiko Serangan Jantung Meningkat

Kemacetan di jalanan ternyata bisa meningkatkan risiko seragan jantung. (Foto: Ari Saputra)

Jalanan DKI Jakarta kembali macet pasca dicabutnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Berdasarkan data dari TomTom Traffic Index, lebih parah dari sebelum pandemi 2019.

Kemacetan bisa menyebabkan tingginya tingkat stres, emosi, hingga mengancam kesehatan. Selain itu, ternyata kemacetan bisa meningkatkan risiko serangan jantung.

Hal ini diteliti dalam sebuah studi yang dipresentasikan di Sesi Ilmiah Tahunan ke-71 College of Cardiology. Studi tersebut menganalisis tingkat serangan jantung di antara hampir 16.000 pasien di New Jersey yang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung pada tahun 2018.

Dikutip dari Eurekalert, New Jersey terkenal sebagai negara bagian dengan perkotaan padat yang dekat dengan berbagai jalur transportasi. Selain itu, Biro Statistik Transportasi negara bagian juga menghitung kebisingan transportasi harian yang rata-rata dialami.

Selanjutnya, pasien dibagi berdasarkan tingkat kebisingannya:
  • Pasien yang mengalami kebisingan tinggi, dengan rata-rata 65 desibel atau lebih tinggi sepanjang hari
  • Pasien yang mengalami kebisingan rendah, dengan rata-rata kurang dari 50 desibel
  • Pasien yang mengalami tingkat kebisingan 65 desibel, yang serupa dengan tingginya suara berbicara atau tertawa keras
Melihat ini, profesor kedokteran di Divisi Kardiologi di Sekolah Kedokteran Rutgers Robert Wood Johnson, Abel E Moreyra, MD, mengatakan bahwa banyak orang yang mungkin beraktivitas di lingkungan dengan suara keras seperti truk, kereta api, atau pesawat yang lewat.

Hasil Penelitian

Hasil keseluruhan menemukan bahwa 5 persen pasien yang dirawat inap karena serangan jantung disebabkan adanya kebisingan yang tinggi di lingkungan seperti kemacetan transportasi. Tingkat serangan jantungnya bisa mencapai 72 persen.

Di area ini mengalami 3.336 serangan jantung per 100.000 orang. Sementara pada area yang lebih tenang kasusnya lebih sedikit, yakni 1.938 kasus serangan jantung per 100.000 orang.

Berdasarkan tingkat relatif serangan jantung di lokasi yang berbeda, para peneliti menghitung bahwa paparan kebisingan di lingkungan yang tinggi menyumbang sekitar 1 dari 20 serangan jantung.

Meski penelitian ini dilakukan di New Jersey, daerah perkotaan lain dengan infrastruktur dan kebisingan transportasi yang sama kemungkinan akan menunjukkan hasil yang sama.

"Sebagai ahli jantung, kami terbiasa memikirkan banyak faktor risiko tradisional penyakit jantung seperti merokok, hipertensi, atau diabetes," kata Moreyra.

"Tetapi, penelitian ini dan lainnya menyarankan mungkin kita harus mulai berpikir tentang polusi udara dan polusi suara sebagai faktor risiko tambahan untuk penyakit kardiovaskular," lanjutnya.

Selain itu, kebisingan juga dapat menyebabkan stres kronis, gangguan tidur, dan tekanan emosional seperti kecemasan serta depresi. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan jantung.

Stres kronis diketahui menyebabkan perubahan hormonal yang terkait dengan peradangan dan perubahan pembuluh darah, yang tentunya berhubungan dengan penyakit jantung.

Kaitan Polusi Udara dan Polusi Suara pada Kesehatan Jantung

Moreyra mengungkapkan kebisingan dan polusi dari kemacetan transportasi di jalanan saling berkaitan. Studi sebelumnya mengaitkan polusi udara partikulat dengan kerusakan kardiovaskular dan peningkatan angka penyakit jantung.

"Polusi udara dan kebisingan berjalan beriringan. Pertanyaannya adalah seberapa besar efek ini disebabkan oleh polusi partikel, dan seberapa besar kebisingannya?" beber Moreyra.

Meski begitu, Moreyra berharap adanya penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan efek polusi suara pada kesehatan jantung.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nggak Cuma Stres, Risiko Serangan Jantung Meningkat gegara Macet! Ini Kaitannya"