Hagia Sophia

26 February 2023

Singapura Cetak Tingkat Kesuburan Paling Rendah Sepanjang Masa, Tanda Resesi Seks?

Singapura dihantam resesi seks, angka kesuburan anjlok. (Foto ilustrasi: Getty Images)

Menyusul kabar serupa dari Korea Selatan beberapa waktu terkahir, kini kabar resesi seks alias warga ogah punya anak datang dari Singapura. Singapura mencetak tingkat kesuburan terendah sepanjang masa sebesar 1,05 pada tahun 2022. Ini lebih rendah dari angka sebelumnya di tahun 2020 sebesar 1,1 dan 1,12 pada tahun 2021.

Menteri di Kantor Perdana Menteri (PMO) Indranee Rajah mengatakan hal itu sebagian karena kepercayaan kalender lunar pada Tahun Macan di kalangan masyarakat Tionghoa.

"Hal ini antara lain karena tahun Macan dalam penanggalan Imlek, yang umumnya diasosiasikan dengan kelahiran lebih rendah di kalangan masyarakat Tionghoa," kata Indranee Rajah di Parlemen, yang dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (25/2/2023).

Indranee mencatat bahwa tingkat kesuburan secara total di negaranya telah mengalami penurunan selama bertahun-tahun. Ini mengacu pada jumlah rata-rata kelahiran hidup yang dialami setiap wanita selama bertahun-tahun reproduksinya.

Penyebab Anjloknya Angka Kesuburan

Indranee mengungkapkan kemungkinan penyebab 'anjloknya' angka kesuburan di Singapura. Salah satunya adalah lebih banyak warga di Singapura yang menunda untuk menikah.

"Lebih banyak pasangan juga menunda memiliki anak atau memiliki lebih sedikit anak," beber Indranee.

"Hal ini sejalan dengan tren masyarakat global jangka panjang. Itu juga terjadi karena orang-orang di Singapura hidup lebih lama," sambungnya.

Di Singapura, angka harapan hidup saat lahir meningkat menjadi lebih dari 83 tahun saat ini. Selain itu, Singapura menemukan tantangan yang semakin besar untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi karena tenaga kerja penduduk tumbuh lebih lambat.

"Ketika ukuran keluarga menyusut, kebutuhan akan perawatan juga akan meningkat," ungkap dia.

"Semakin banyak warga Singapura akan menghadapi tekanan ganda dalam membesarkan anak sambil merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia. Dan faktanya, itu sudah terjadi," lanjutnya.

Selain itu, di Singapura juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pengasuhan anak yang bisa diandalkan. Hal ini sangat diperlukan oleh mereka yang baru saja menjadi orang tua agar bisa merawat bayi.

"Kami akan meninjau bagaimana kami dapat mendukung orang tua baru dengan lebih baik dalam merawat bayi mereka," tambahnya.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Susul China dan Korsel, Kini Giliran Singapura Dihantam Resesi Seks"