Hagia Sophia

11 April 2023

Alasan Krisis Populasi di China: Biaya Urus Anak Sangat Tinggi

Curhat wanita China soal biaya urus anak. (Foto ilustrasi: AP/Mark Schiefelbein)

Sebuah survei menunjukkan biaya membesarkan anak di China mencapai hampir tujuh kali lipat PDB per kapitanya, jauh lebih tinggi daripada di Amerika Serikat dan Jepang. Hal ini menyoroti tantangan yang dihadapi pembuat kebijakan China ketika mereka mencoba untuk mengatasi tingkat kelahiran yang menurun dengan cepat.

Para ahli memperingatkan populasi lansia China akan memberi tekanan besar pada sistem kesehatan dan jaminan sosialnya, sementara berkurangnya tenaga kerja juga dapat sangat membatasi pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia itu dalam beberapa dekade mendatang.

Meski kebijakan baru mengizinkan keluarga memiliki sebanyak tiga anak, angka kelahiran China turun menjadi 7,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2021, terendah sejak Biro Statistik Nasional mulai mencatat data pada 1949.

YuWa Population Research Institute yang berbasis di Beijing mengatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Februari 2023 bahwa biaya rata-rata membesarkan anak hingga usia 18 tahun di China pada tahun 2019 mencapai 485.000 yuan atau sekitar Rp 1 miliar untuk mengurus anak pertama.

China menempati urutan kedua tertinggi di antara 13 negara yang termasuk dalam penelitian, hanya di belakang Korea Selatan, yang memiliki angka kelahiran terendah di dunia.

Biaya membesarkan anak bahkan lebih tinggi di kota-kota besar China, mencapai lebih dari 1 juta yuan di Shanghai dan 969.000 yuan di Beijing. Angka kelahiran di kedua kota tersebut bahkan lebih rendah dari rata-rata nasional.

Seorang ibu, menulis dengan nama pengguna "Maning" di situs Weibo China, mengatakan dia percaya biaya membesarkan anak di Beijing mungkin bahkan lebih tinggi daripada yang disarankan laporan tersebut.

"Dengan perhitungan seperti itu, saya hampir tidak bisa membayangkan anak kedua dan keluarga mana pun yang menginginkan anak ketiga sungguh menakjubkan," katanya.

YuWa memperingatkan penurunan tingkat kelahiran akan "sangat mempengaruhi" potensi pertumbuhan ekonomi China, kemampuannya untuk berinovasi dan beban kesejahteraannya.

Di Weibo, pengguna lain menulis dengan nama Zhang, mengatakan bahwa tindakan perlu diambil untuk mengatasi beban tidak proporsional yang dihadapi perempuan, yang diharapkan melahirkan dan membesarkan anak sebagai bagian dari "keibuan" alami mereka.

"Itulah sebabnya biaya melahirkan sebagian besar ditanggung oleh perempuan, membuat perempuan hidup dalam lingkungan persaingan yang tidak adil dalam waktu yang lama," tulisnya.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Curhat Wanita China soal Krisis Populasi: Biaya Urus Anak Selangit"