Hagia Sophia

11 April 2023

Inikah Penyebab Kaum Muda Jepang Enggan untuk Menikah?

Ternyata ini alasan warga Jepang anggap menikah tidak ada untungnya. (Foto: AP/Miyuki Saito)

Jepang diterpa penurunan angka kelahiran akibat banyak warganya yang tidak ingin menikah dan punya anak. Rendahnya angka kelahiran membuat perdana Menteri Fumio Kishida memprediksi jumlah anak muda di Jepang pada 2030 hanya mencapai setengah dari populasi saat ini.

Survei pada 2021 misalnya, hanya 36,6 persen wanita lajang berusia 18-34 tahun yang percaya bahwa sebuah keluarga harus memiliki anak. Angka ini menurun dari 6 tahun sebelumnya sebesar 67,4 persen. Penurunan juga terlihat pada persepsi pria lajang. Hanya 55 persen pria ingin memiliki anak setelah menikah, dari yang sebelumnya mencapai 75,4 persen.

Survei lain yang dilakukan Nippon Foundation terhadap 1.000 anak muda berusia 17-19 tahun menemukan 60 persen pria dan wanita ingin menikah. Namun, hanya 19,2 persen pria dan 13,7 persen wanita yang yakin pasti menikah.

Sebanyak 47,3 responden pria yang menjawab mungkin atau tidak akan menikah beralasan karena tidak memiliki pasangan. Sementara itu, 52,3 persen wanita mengaku lebih nyaman melajang.

Banyak wanita muda menganggap ada menikah tidak membawa keuntungan. Survei mencatat 36,9 persen wanita tidak ingin membesarkan anak, 35,1 persen tidak ingin kehilangan kebebasan, dan 22,5 persen memiliki prioritas lain daripada berkeluarga.

November lalu, survei yang dilakukan oleh Badan Anak dan Keluarga Jepang menemukan dari 12.249 responden berusia 15-64 tahun, sekitar 2 persen merupakan hikikomori atau orang yang mengisolasi diri di rumah. Angka tersebut berjumlah 1, 46 juta dari seluruh populasi Jepang. Adanya hikikomori ini membuat mereka jarang bersosialisasi dan tidak memiliki pasangan sehingga keinginan menikah dan punya anak semakin minim.

Pakar masalah penurunan angka kelahiran, Fujinami mengatakan keinginan menikah dan punya anak menurun drastis, terutama di kalangan perempuan.

"Persentase wanita yang tidak percaya bahwa mereka akan menikah seumur hidup juga meningkat lebih banyak daripada pria," kata Fujinami, dikutip dari Asahi, Senin (10/4/2023).

Fujinami berpendapat beragam survei nasional tentang penurunan angka kelahiran mencerminkan kekecewaan wanita terhadap kesenjangan gender. Wanita cenderung menerima upah lebih rendah daripada laki-laki sedangkan mereka harus mengurus rumah dan merawat anak.

"Hasil survei harus digunakan sebagai petunjuk untuk mengatasi masalah dari perspektif baru, seperti bagaimana kesenjangan gender dapat diisi dan bagaimana tingkat upah dapat dinaikkan untuk kaum muda," lanjutnya.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Terjawab Sudah, Penyebab Warga Jepang Anggap Menikah Tak Ada Untungnya"