Hagia Sophia

31 July 2023

Riset Terlama Temukan Pola Makan yang Membuat Panjang Umur

Pola makan berpengaruh terhadap perpanjangan umur. (Foto: iStock)

Tidak peduli berapa usia saat ini, atau berapa banyak junk food yang telah dikonsumsi, ilmuwan menilai tidak ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki pola makan yang buruk. Hal ini dianggap mempengaruhi umur panjang.

Studi terbaru di New England Journal of Medicine meneliti sekitar 74.000 orang berusia antara 30 sampai 75 tahun selama lebih dari dua dekade. Selama waktu itu, mereka menganalisis pola makan dan kebiasaan gaya hidup mereka serta melacak perubahan apa yang terjadi.

Para peneliti menggunakan beberapa sistem penilaian untuk menilai kualitas diet mereka, termasuk Indeks Makan Sehat Alternatif, yang dikembangkan oleh pakar nutrisi di Harvard T.H. Chan, School of Public Health.

Indeks memberikan skor rendah untuk makanan tidak sehat dan skor lebih tinggi untuk makanan sehat. Di antara makanan yang mendapat skor tinggi adalah buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, buncis, dan makanan kaya lemak tak jenuh dan asam lemak omega-3 yang menyehatkan jantung, seperti ikan, alpukat, dan minyak zaitun.

Beberapa makanan tidak sehat yang mendapat skor lebih rendah seperti daging merah dan olahan serta makanan tinggi natrium dan gula tambahan, seperti minuman manis, pizza, keripik kentang, dan makanan cepat saji lainnya.

"Orang yang meningkatkan makanan 'skor tinggi' sekitar 20 persen selama penelitian memiliki setidaknya 8 persen penurunan kematian selama masa penelitian dan penurunan 7 sampai 15 persen kemungkinan kematian akibat penyakit jantung," kata Mercedes Sotos-Pieto, peneliti Harvard.

Sebagian besar peserta dalam penelitian berusia di atas 60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan manfaat dari perbaikan kebiasaan makan.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Riset Terpanjang Harvard Temukan Pola Makan yang Bisa Bikin Panjang Umur!"