Hagia Sophia

31 July 2023

Efek Mencairnya Es Abadi: Virus Purba Bisa Bangkit

Foto: Getty Images/Adrian Wojcik

Para ilmuwan khawatir patogen virus purba 'penjelajah waktu' dapat bocor ke dunia karena penjara es mereka di permafrost mencair. Selama ini, virus purba tersegel dalam permafrost selama ribuan tahun, dapat bertahan hidup dan berkembang menjadi spesies dominan yang hidup bebas-membunuh hingga sepertiga inang mirip bakteri.

Namun peneliti di Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa menemukan sekitar tiga persen virus purba tersebut menjadi dominan setelah dilepaskan dari es.

Temuan baru menunjukkan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh patogen penjelajah waktu bisa menjadi pemicu besar perubahan ekologi dan ancaman terhadap kesehatan manusia.

Pada tahun 2022, para ilmuwan mengumumkan bahwa mereka telah menghidupkan kembali virus berusia 48.500 tahun yang ditemukan di permafrost Siberia yang mencair. Itu adalah salah satu dari tujuh jenis virus di permafrost yang telah dibangkitkan setelah ribuan tahun.

Virus termuda telah membeku selama 27.000 tahun, dan yang tertua, Pandoravirus yedoma, membeku selama 48.500 tahun.

Meskipun virus tersebut tidak dianggap sebagai risiko bagi manusia, para ilmuwan memperingatkan bahwa virus lain yang terpapar oleh es yang mencair dapat menjadi 'bencana' dan menyebabkan pandemi baru. Misalnya, permafrost Alaska pernah menjebak virus influenza yang menyebar pada tahun 1981, yang dapat memicu wabah lain.

Saat perubahan iklim terjadi, patogen yang terkunci permafrost mulai mencair. Mereka menyebutkan bahwa mencairnya permafrost akibat perubahan iklim dapat menghadirkan ancaman baru bagi manusia dan hewan.

Ada banyak penelitian tentang bagaimana patogen semacam itu dapat berdampak pada manusia, tetapi yang terbaru menggunakan pendekatan yang kurang dipelajari.

Tim mengukur risiko ekologis yang ditimbulkan oleh mikroba ini menggunakan simulasi komputer dengan melakukan eksperimen evolusi buatan di mana patogen mirip virus digital dari masa lalu menyerang komunitas inang mirip bakteri.

Para peneliti memiliki beberapa hipotesis, seperti mereka mengharapkan patogen kuno lebih rentan terhadap persaingan dari yang modern.

"Inang modern mungkin juga telah melarikan diri dari patogen kuno selama sejarah ko-evolusi mereka, dan mungkin mempertahankan resistensi evolusi mereka, sehingga menantang penyerbu untuk menemukan inang yang rentan," demikian bunyi penelitian yang diterbitkan dalam PLOS Computational Biology.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ilmuwan Khawatir Efek Mencairnya Es Abadi, Virus Purba Bisa Bangkit Lagi"