Hagia Sophia

11 October 2023

Ingin Tinggal di Bulan? Ini Biaya Hidup Perbulannya

ilustrasi

Saat ini, badan antariksa berbagai negara berlomba mengeksplorasi Bulan, berupaya membuka jalan bagi manusia untuk bisa pergi dan dan bahkan tinggal di Bulan. Ada sebuah riset yang menghitung bahwa bermukim di satelit alami Bumi tersebut akan memakan biaya sangat mahal.

Seorang ahli di Money, perusahaan broker untuk produk kredit konsumen, merilis panduan hipotek perhitungan biaya hidup di Bulan. Berdasarkan hitung-hitungan Money, bermukim di Bulan paling tidak akan menelan biaya USD 325.067 atau sekitar Rp 5 miliar sebulan.

Harga ini termasuk biaya pemeliharaan perintilan pengamanan rumah seperti segel udara, pendingin udara dan pemanas berskala industri, jendela tahan meteor, ruangan isolasi, dan sumber energi organik.

Panduan hitung-hitungan ini juga mengurutkan lokasi yang paling didambakan sebagai hunian di Bulan. Bagian Bulan yang disebut sebagai 'Sea of Rains' dianggap sebagai lokasi yang sempurna untuk tempat tinggal keluarga. Wilayah ini terletak di utara dan merupakan salah satu kawah tubrukan terbesar di Tata Surya.

Ambisi untuk bisa menjajah Bulan bukan angan-angan belaka. Buktinya, misi Artemis NASA akan lepas landas pada tahun 2024 dan mengirim kru ke Bulan yang akan menjelajahi permukaan Bulan. Misi ini membawa harapan bisa membangun pemukiman yang stabil di sana.

Meski NASA hanya berfokus pada pengiriman astronaut, perusahaan teknologi luar angkasa melihat lebih jauh ke masa depan ketika manusia terpikir untuk pindah dari Bumi ke Bulan.

"Dengan Bumi yang semakin padat dan teknologi luar angkasa yang semakin maju, tidak lama lagi kehidupan di Bulan menjadi sesuatu yang normal," demikian kata penelitian tersebut seperti dikutip dari Daily Mail.

Dalam studi ini, Money mempertimbangkan biaya bangunan dan harga markup untuk menjual rumah di Bulan untuk membuat panduan komprehensif tentang cara membeli hipotek dan beradaptasi dengan gaya hidup di Bulan.

Tim Money juga mempertimbangkan berbagai faktor untuk menghitung biaya rumah di Bulan, antara lain bahan mentah yang dibutuhkan untuk membangun rumah, bahan khusus yang dibutuhkan untuk membangun atmosfer Bulan, astronaut yang diperlukan untuk melakukan perjalanan, dan biaya rata-rata untuk mengangkut bahan ke Bulan.

Adapun data biaya per transportasi dikumpulkan dari SpaceX, untuk menghitung jumlah pengiriman logistik ke permukaan Bulan. Menurut panduan hipotek Bulan, rumah pertama di Bulan yang dapat berfungsi sepenuhnya adalah USD 48.454.063 atau sekitar Rp 758 miliar.

Setelah rumah mahal ini selesai dibangun, rumah-rumah berikutnya akan berharga lebih murah, sekitar USD 40.662.642 (Rp 636 miliar) karena bahan bangunan dan para pekerja sudah tinggal di Bulan.

Panduan ini pun memberi tahu calon penghuni untuk memperkirakan markup properti akan berkisar di rata-rata 27,61% setelah manusia lainnya mulai ramai berpindah dari Bumi.

Tinggal di Bulan. Foto: Money.co.uk

Gaya hidup di Bulan

Ide tinggal di Bulan mungkin terdengar seperti kehidupan yang mengasyikkan. Tapi perlu diingat, mereka yang cukup berani untuk mengambil keputusan tersebut harus mempertimbangkan berbagai gaya hidup di Bulan yang menyertainya.

Salah satunya, mempertimbangkan untuk menghasilkan energi di kondisi cuaca dan suhu yang ekstrem. Oleh karena itu, biaya beberapa pemasok energi mungkin memaksa orang untuk mempertimbangkan beberapa opsi alternatif.

"Cara paling efisien untuk menghasilkan listrik di Bulan adalah dengan membeli reaktor nuklir kecil seharga USD 1,3 miliar," kata Money dalam studi tersebut.

Alternatifnya, warga Bulan bisa berinvestasi untuk 34 panel surya yang akan menghasilkan cukup listrik untuk satu rumah dan 'hanya' membutuhkan biaya USD 23.616 (Rp 369 juta) sebagai perbandingannya dengan nuklir kecil.

Tak cukup sampai di situ, begitu sampai di Bulan, manusia juga harus belajar bagaimana bertahan hidup di sana, yang berarti harus bisa menanam makanan mereka sendiri.

Dengan rata-rata rumah tangga berisi empat orang, dibutuhkan total tujuh rumah untuk menghasilkan 1,1 ton makanan di Bulan. Dengan banyak tanaman, tentunya dibutuhkan sejumlah besar air.

Rumah di Bulan. Foto: Money.co.uk

NASA pada Oktober lalu mengumumkan bahwa ada air di permukaan Bulan yang diterangi Matahari. Sumber air ini dapat dengan mudah diakses oleh fairing luar angkasa. Meski demikian, jumlahnya tidak cukup untuk mengairi berton-ton tanaman.

"Untuk hidup nyaman selama setahun, diperlukan 5,9 ton air untuk mengatur pertumbuhan tanaman dan hidrasi pribadi untuk satu rumah tangga," Money menjelaskan.

Tak lupa, panduan tersebut mencatat bahwa satu-satunya cara untuk menghasilkan air dalam jumlah besar adalah dengan memurnikan dan menggunakan kembali limbah air.

Kotoran Bulan yang dibawa kembali ke Bumi dari misi sebelumnya mengandung Helium-3. Kandungan ini dinyatakan oleh China dapat menyelesaikan krisis energi dunia. Studi terbaru menyebutkan, helium 3 juga dapat digunakan untuk menyalakan rumah di Bulan.

"Perkembangan penambangan ion Helium-3 yang ditemukan di kerak atas Bulan, pada waktunya, akan memicu reaksi fusi nuklir non-radioaktif dan menghasilkan energi yang lebih bersih dan lebih aman dalam jumlah yang lebih besar daripada yang tersedia di Bumi saat ini," kata studi tersebut.

Setelah menghitung biaya hidup di Bulan, langkah selanjutnya adalah memilih lokasi yang sempurna, yang cocok dengan isi kantong.











 


















Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Menghitung Biaya Hidup Andai Manusia Pindah ke Bulan"