Hagia Sophia

17 February 2024

Konon Dibuat dari Tulang Manusia, Narkoba 'Zombie' Membuat Ribuan Orang Dirawat di Afrika

Narkoba 'zombie' di Afrika Barat (Foto: AFP/JOHN WESSELS)

Narkoba 'zombie' yang mematikan telah menimbulkan kekacauan di beberapa negara, termasuk Afrika Barat. Narkoba yang disebut 'kush' itu bisa menyebabkan penggunanya berjalan layaknya zombie, seperti jalan sempoyongan hingga melukai diri sendiri saat tertidur dan berjalan.

Menurut laporan di The Daily Telegraph, sekitar 1 juta orang di wilayah Afrika Barat telah mengalami kecanduan zat baru yang mematikan ini. Narkoba 'zombie' ini juga telah menyebabkan puluhan orang meninggal setiap minggunya, dan ribuan lainnya dirawat di rumah sakit.

Michael Cole, profesor ilmu forensik di Anglia Ruskin University, Inggris, mengatakan narkoba kush banyak dikonsumsi oleh pria berusia antara 18 hingga 25 tahun. Dampak buruknya sangat terasa di negara Sierra Leone, Afrika Barat.

Kush merupakan campuran beberapa zat, termasuk ganja, fentanil, tramadol, dan bahan pengawet formaldehyde. Beberapa orang mengklaim obat tersebut mengandung tulang manusia yang dihaluskan. Akan tetapi, para ahli berpendapat klaim ini mungkin hanya rumor belaka.

"Kush di Afrika adalah obat yang mengandung campuran bahan kimia termasuk tramadol, ganja, fentanil, dan terkadang formaldehyde. Obat ini menjadi populer karena harganya yang terjangkau dan tersedia secara luas," ujar Ian Hamilton, seorang profesor di University of York, Inggris, dikutip dari Newsweek.

"Yang mendasari popularitasnya adalah beberapa faktor sosial seperti tingginya pengangguran, kemiskinan dan kurangnya harapan hidup. Kush tampaknya telah tiba pada waktu yang tepat untuk membantu mereka yang menggunakannya buat mengatasi kondisi sosial buruk yang mereka alami," lanjutnya lagi.

Fentanil dan tramadol keduanya merupakan opiat yang bisa bikin orang ketagihan. Sementara formaldehyde biasanya digunakan untuk membalsem mayat dan dapat menyebabkan halusinasi bila dikonsumsi.

Ketika obat-obat ini dicampurkan menjadi kush, proporsi dan konsentrasi masing-masing zat sulit dikendalikan, dan inilah yang menyebabkan kush dapat menimbulkan reaksi yang sangat beragam di antara individu.

"Jika campuran kush benar-benar mengandung opioid sintetik, maka risikonya terhadap kesehatan sudah jelas. Ini adalah obat-obatan yang telah menyebabkan banyak kematian di Amerika Utara dan semakin mengkhawatirkan di Eropa," papar Harry Sumnall, profesor penggunaan narkoba di Liverpool John Moores University.

Sumnall menambahkan risiko ini diperburuk oleh langkanya layanan rehabilitasi narkoba di masyarakat, di saat narkoba kush banyak tersebar. Menurutnya, kush di satu wilayah juga bisa sangat berbeda dengan kush di kelompok atau wilayah lain.

Sedangkan untuk obat yang mengandung tulang manusia, ahli berpendapat hal tersebut sangat kecil kemungkinannya karena tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

"Saya sangat skeptis terhadap gagasan bahwa tulang manusia digunakan untuk membuat kush karena tidak ada apa pun di dalam tulang manusia yang dapat memabukkan bahkan jika tulang tersebut milik seseorang yang pernah menggunakan narkoba seperti kush," kata Hamilton.

"Saya menduga ini dimulai sebagai sumber yang menyebar luas tanpa ada bukti yang mendukungnya," imbuhnya.

Satu-satunya cara untuk membuktikan apakah kush mengandung tulang manusia atau tidak adalah dengan menganalisisnya. Kush sendiri dapat ditemukan di Sierra Leone dan beberapa negara tetangga seperti Guinea dan Liberia.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Heboh Narkoba 'Zombie' di Afrika Barat, Disebut Dibuat dari Tulang Manusia"