Hagia Sophia

05 May 2024

Malaysia Akan Larang Restoran Buka 24 Jam, Ini Alasannya

Malaysia (Foto: AP/Vincent Thian)

Abdul Mukthahir Ibrahim, pemilik empat restoran mamak di kota Bukit Beruntong, Selangor dengan dua cabangnya beroperasi 24 jam, dan dua lainnya buka 20 jam setiap hari tengah gusar.

Pria berusia 62 tahun ini mengaku heran dengan wacana pembatasan jam buka operasional restoran yang ditujukan demi menekan kasus obesitas. Dirinya menekankan makanan yang disajikan selama ini terbilang sehat dan tidak menggunakan bahan yang berisiko berdampak pada masalah kesehatan seseorang.

"Yang sehat adalah makanan buatan rumah. Namun jika Anda tidak mempunyai waktu dan kapasitas untuk memasak, Anda bisa mengandalkan makanan mamak yang dimasak tepat di depan Anda. Kami tidak menyajikan makanan beku yang mengandung bahan pengawet," kata Pak Mukthahir.

Dalam diskusi mengenai meningkatnya angka obesitas di masyarakat Malaysia, restoran mamak menjadi sorotan karena kemungkinan besar berkontribusi terhadap pelebaran lingkar pinggang, salah satunya karena jam operasional mereka yang panjang.

Baru-baru ini, Asosiasi Konsumen Penang (CAP) mempertimbangkan masalah ini, dengan menyerukan agar restoran mamak seperti yang dijalankan oleh Mukthahir, dan restoran 24 jam lainnya, tidak lagi dapat beroperasi setelah tengah malam.

Presiden CAP Mohideen Abdul Kader mengatakan dalam sebuah pernyataan pada 22 April, bahwa pihak berwenang harus mencabut izin operasional 24 jam yang diberikan kepada restoran-restoran karena penelitian menunjukkan ada dampak negatif dari makan larut malam seperti penambahan berat badan, gangguan tidur, dan masalah pencernaan.

Mohideen mengutip Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional tahun 2019, melaporkan 30,4 persen warga Malaysia kelebihan berat badan dan 19,7 persen mengalami obesitas. Dia mengatakan obesitas merupakan faktor risiko penyakit tidak menular (NCD) seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular dan kanker, dengan beban pembiayaan penyakit sekitar US$2,2 miliar setiap tahunnya. Dia menambahkan, semua gerai makanan harus tutup pada tengah malam daripada diizinkan beroperasi 24 jam sehari.

"Meskipun memperpendek jam operasional restoran tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah obesitas di Malaysia, hal ini akan membantu mengurangi makan larut malam di kalangan masyarakat Malaysia," kata Mohideen, mengulangi seruan yang telah berulang kali dibuat oleh organisasi tersebut selama bertahun-tahun.

Picu Pro-Kontra

Meskipun saran ini mungkin tidak mendapat dukungan semua orang, kekhawatiran mereka mengenai meningkatnya masalah kesehatan dan kebiasaan makan larut malam memang benar adanya, menurut presiden Masyarakat Diabetes Malaysia, Dr Ikram Shah.

"Kami setuju dengan CAP. Makan larut malam tidak sehat dan dapat menyebabkan obesitas dan penyakit lainnya dalam jangka panjang. Tidak ada negara lain yang memiliki pengaturan seperti ini," katanya.

Ia mencontohkan, prevalensi diabetes di Malaysia terus meningkat dan salah satu faktor penyebabnya adalah kebiasaan makan yang tidak sehat. Menurut Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional (NHMS) Malaysia yang dilakukan setiap empat tahun, pengidap diabetes meningkat dari 11,2 persen populasi pads 2011 menjadi 13,4 persen pada 2015 dan 18,3 persen di 2019.

Namun Dr Ikram mengatakan bahwa restoran-restoran tersebut memenuhi kebutuhan dan tidak mudah untuk menghentikan operasionalnya selama 24 jam. "Pasti ada alternatif lain. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Kementerian Kesehatan, tapi ini akan sulit karena ada mata pencaharian yang juga dipertaruhkan," katanya.

Bapak Kharan, yang merupakan seorang mahasiswa, senada dengan Dr Ikram dan percaya bahwa akan sangat sulit bagi pihak berwenang untuk mengatur jam buka restoran-restoran tersebut. "Itu sudah tertanam dalam budaya kita bahkan dalam aliran darah kita," ujarnya sambil tertawa.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Angka Obesitas Tinggi, Malaysia Bakal Larang Restoran Buka 24 Jam"