![]() |
| Ilustrasi lari (Foto: Getty Images/jacoblund) |
Lari seharusnya jadi olahraga paling simpel. Tinggal pakai sepatu, keluar rumah, dan mulai deh selangkah demi selangkah sampai keringat bercucuran.
Tapi, belakangan banyak yang merasa 'capek' duluan sebelum mulai. Bukan karena udah lari jauh, tapi takut dinilai sepatunya apa, jam tangannya merek apa, dan pace-nya berapa.
Di sinilah sebagian orang mulai merasa, dunia lari sudah nggak seramah sebelumnya. Di beberapa komunitas lari, malah terkesan lebih eksklusif dan diskriminatif.
Seperti pengalaman Raka (33) karyawan swasta di Jakarta Pusat yang juga founder komunitas 'Gerombolan Pace Besar'. Dirinya melihat di media sosial banyak pelari pemula yang mendapatkan tekanan sebelum mereka bergabung ke komunitas.
"Di aplikasi Threads biasanya isinya pelari semua, itu banyak sekali temen-temen yang pemula dan baru gabung ke komunitasnya let's say komunitasnya dari brand, atau komunitas yang sustain lama yang punya nama besar," kata Raka kepada detikcom, Selasa (20/1/2026).
"Ketika memang dianggap secara outfit-nya 'wah bukan pelari ya' mungkin cuman pakai celana training, sepatu training gitu ya, ya ada diskriminasi respons di sana," sambungnya.
Dari sinilah biasanya membuat para pemula menjadi malas untuk lebih selektif dalam memilih komunitas lari, sehingga semakin memperkecil pilihan mereka untuk memulai bergerak bersama orang lain.
"Padahal orang mau berkomunitas karena selain untuk sehat, tapi biar ada teman larinya deh, tau cara lari dan segala macam," katanya.
Mulai Lari Aja Dulu
Di komunitas 'Gerombolan Pace Besar', Raka mengatakan sudah ada puluhan orang yang ikut menjadi anggota. Rata-rata, yang tergabung di sana adalah mereka yang benar-benar pemula dalam dunia lari.
"Kita ada teman-teman yang setiap minggu tuh ada improvement di sana. Dari pertama datang cuma bisa jalan, terus lari jalan, terus dia bisa lari 5 km, pace-nya udah mulai turun," kata Raka.
Senada, spesialis kedokteran olahraga Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS mengatakan untuk para pemula yang mau terjun cabang olahraga apapun, termasuk lari harus memulainya dengan perlahan.
"Pace keong itu bukan masalah, karena itu seringkali tanda yang benar. Masalah terbesar bagi pelari pemula itu bukan terlalu pelan, tapi terlalu cepat di awal. Itu kan justru bahaya," kata dr Listya.
"Banyak yang mulai lari tapi langsung FOMO, menyamakan pace-nya sama temennya. Kita ngomongnya start low, go slow. Tapi berangkatnya dari pace keong dong," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Banyak Komunitas Lari Mulai 'Toxic', Jadi Ajang Pamer Gear Mahal Ketimbang Cari Sehat"
